Beberapa anggota Dewan Kota New York baru-baru ini mengusulkan sebuah undang-undang yang memungkinkan pekerja non-pemerintah di kota tersebut untuk menggunakan cuti sakit yang dibayar untuk merawat hewan peliharaan yang sakit atau baru diadopsi. Usulan ini muncul sebagai respons terhadap kebutuhan pekerja akan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, terutama setelah banyak orang yang mengadopsi hewan peliharaan selama pandemi.
Konsep ini dikenal dengan sebutan "pawternity leave", yaitu waktu cuti khusus untuk merawat hewan peliharaan. Meskipun saat ini masih merupakan manfaat yang jarang ditemukan di tempat kerja, beberapa anggota dewan berharap undang-undang ini dapat mengubah pandangan tentang hak cuti pekerja ketika menyangkut hewan peliharaan mereka.
"Apakah ini berarti kita harus meminta surat keterangan dokter dari dokter hewan?" kata Teri Chilcoat, seorang konsultan sumber daya manusia, dalam sebuah postingan di LinkedIn, menyoroti betapa uniknya wacana ini.
Banyak perusahaan besar seperti United Airlines dan Verizon telah menawarkan asuransi hewan peliharaan dengan harga diskon. Selain itu, beberapa perusahaan seperti Adobe dan Lyft bahkan memberikan akses untuk konsultasi dokter hewan secara online dengan biaya yang lebih terjangkau melalui layanan telehealth hewan peliharaan seperti Airvet.
Namun, pasar kerja saat ini mengalami penurunan, dan beberapa majikan merasa ada batasan dalam memenuhi kebutuhan cuti pekerja. Beberapa pengusaha berpendapat bahwa memberikan cuti sakit berbayar untuk anggota keluarga berbulu adalah satu langkah terlalu jauh.
Usulan ini kini memicu perdebatan lebih luas tentang manfaat hewan peliharaan dan jenis cuti apa yang seharusnya diberikan oleh atasan kepada karyawan mereka. Dengan semakin banyaknya orang yang menganggap hewan peliharaan sebagai bagian dari keluarga, wacana ini menjadi sangat relevan dan menarik perhatian banyak pihak.
cuti hewan peliharaan New York pekerja kesejahteraan hewan