Konferensi Iklim PBB yang berlangsung di Baku, Azerbaijan, baru saja mencapai kesepakatan penting mengenai pembiayaan untuk perlindungan iklim. Dalam keputusan yang diambil pada malam hari Minggu, para pemimpin dunia sepakat untuk meningkatkan kontribusi tahunan dari negara-negara industri hingga mencapai setidaknya 300 miliar dolar AS pada tahun 2035. Ini merupakan peningkatan signifikan dari komitmen sebelumnya yang hanya sebesar 100 miliar dolar AS per tahun.
Namun, meski ada kemajuan, banyak negara berkembang merasa bahwa kesepakatan ini masih jauh dari harapan mereka. Negara-negara tersebut telah meminta kontribusi tahunan sebesar 1,3 triliun dolar AS hingga tahun 2035. Mereka juga berharap agar negara-negara maju dapat meningkatkan kontribusi mereka menjadi 500 miliar dolar AS pada tahun 2030. Meskipun angka 1,3 triliun dolar AS kini disebut sebagai target, tidak ada informasi jelas mengenai dari mana dana tersebut akan berasal. Sebagai langkah selanjutnya, sebuah proses telah disetujui untuk mengeksplorasi kemungkinan sumber dana tersebut.
Negara-negara industri juga menginginkan keterlibatan negara-negara berkembang yang lebih kuat secara ekonomi, seperti China. Dalam kesepakatan ini, negara berkembang, termasuk China, "didorong" untuk memberikan kontribusi secara sukarela.
Selama konferensi, banyak kritik dilontarkan terhadap cara kepresidenan Azerbaijan dalam mengelola acara ini. Beberapa wakil dari negara-negara kecil yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim bahkan meninggalkan perundingan sebagai bentuk protes.
Jan Kowalzig dari Oxfam menyatakan bahwa dukungan yang disepakati "tidak akan memenuhi kebutuhan mendesak negara-negara berpenghasilan rendah dalam menghadapi krisis iklim". Dia menambahkan bahwa demi mencegah kegagalan konferensi, negara-negara yang paling rentan harus menerima hasil yang sama sekali tidak sesuai dengan kebutuhan mereka. Sabine Minninger dari Brot für die Welt juga menyoroti hal yang sama.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Jerman, Annalena Baerbock, menyebut kesepakatan ini sebagai awal dari babak baru dalam pembiayaan iklim. Ia menjawab kritik dari negara-negara berkembang dengan menyatakan bahwa hal ini setidaknya merupakan "titik awal". Presiden AS Joe Biden juga memberikan pujian terhadap kesepakatan ini, menyebutnya sebagai "langkah penting" dan menyebut target pembiayaan tersebut sebagai "ambisius".
konferensi iklim pembiayaan iklim negara berkembang UN Baku