Pada hari Sabtu, serangan udara yang dilancarkan oleh Israel di Beirut, ibu kota Lebanon, mengakibatkan setidaknya sebelas orang tewas. Menurut pernyataan dari Badan Penyelamat Lebanon, angka ini masih bersifat sementara. Para penyelamat masih mencari di antara reruntuhan bangunan untuk menemukan kemungkinan korban atau penyintas lainnya.
Serangan yang terjadi pada dini hari tersebut berhasil menghancurkan sebuah gedung bertingkat delapan. Laporan dari pihak keamanan Lebanon menyebutkan bahwa serangan ini ditujukan kepada seorang pejabat dari kelompok Hizbollah, sebuah organisasi militan yang berbasis di Lebanon.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Joe Biden telah berdiskusi dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron mengenai kemungkinan gencatan senjata di Lebanon. Menurut pihak Gedung Putih, tujuan dari pembicaraan ini adalah agar warga di kedua sisi perbatasan dapat kembali ke rumah mereka dengan aman. Selain itu, utusan khusus AS, Amos Hochstein, juga berada di wilayah tersebut untuk mengeksplorasi peluang gencatan senjata antara Israel dan Hizbollah.
Sementara itu, di Jalur Gaza, serangan udara dan tembakan artileri yang dilaporkan oleh otoritas perlindungan sipil yang dikuasai oleh organisasi Hamas, menyebabkan 19 orang tewas. Di antara yang tewas terdapat anak-anak, dan 40 orang lainnya mengalami luka-luka. Angkatan Udara Israel dilaporkan telah melakukan tiga serangan udara, sementara penembakan artileri terjadi di kota Rafah, yang terletak di bagian selatan wilayah Palestina.
Kondisi di kedua lokasi ini menunjukkan bahwa ketegangan dan konflik di wilayah Timur Tengah masih berlangsung, dengan dampak yang sangat menyedihkan bagi warga sipil. Warga sipil sering kali menjadi korban dalam konflik bersenjata, dan upaya untuk mencapai perdamaian dan gencatan senjata sangat dibutuhkan agar situasi dapat membaik.
serangan udara Israel Beirut korban jiwa konflik