Breaking News
    Tidak Ada Level Aman Minum Alkohol untuk Jaga Kesehatan Otak     Labour Partai Akan Suarakan Deklarasi Genosida Israel di Gaza     Ubah Pola Pikir, Ubah Nasib: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik     Mensesneg Prasetyo Cari Solusi Setelah Kartu Identitas Wartawan Dicabut    

Putin Umumkan Produksi Massal Roket Oreschnik di Tengah Ketegangan

Presiden Rusia, Vladimir Putin, baru-baru ini mengumumkan bahwa negara tersebut akan memulai produksi massal roket baru bernama Oreschnik. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah pertemuan yang melibatkan pejabat tinggi militer dan perwakilan industri pertahanan Rusia.

Pengumuman ini muncul setelah Rusia meluncurkan serangan terhadap kota Dnipro, Ukraina, dengan menggunakan roket balistik jarak menengah baru. Roket jenis ini memiliki kemampuan untuk menyerang target dalam jarak antara 3.000 hingga 5.500 kilometer, yang berarti dapat digunakan untuk menyerang wilayah Eropa Barat. Menurut laporan, roket tersebut diluncurkan dari daerah Astrachan di Rusia.

Awalnya, pemerintah Ukraina menuduh Rusia telah menggunakan roket antarbenua dalam serangannya. Namun, pihak Washington kemudian mengklarifikasi bahwa yang digunakan adalah "roket balistik jarak menengah yang eksperimen".

Dalam konteks ini, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menuduh Putin melakukan kejahatan perang. Ia menyatakan bahwa jika seseorang menyerang negara lain bukan hanya untuk menakut-nakuti, tetapi juga untuk menguji roket baru untuk teror lebih lanjut, maka itu jelas merupakan kejahatan perang.

Ketegangan antara Rusia dan sekutu barat Ukraina semakin meningkat dalam beberapa hari terakhir. Pada akhir pekan lalu, Presiden AS, Joe Biden, memberikan izin kepada Ukraina untuk menggunakan senjata dengan jangkauan lebih jauh untuk menyerang target di Rusia. Setelah izin tersebut, Ukraina melancarkan serangan terhadap target di Rusia menggunakan roket ATACMS yang disuplai oleh AS serta rudal Storm Shadow yang diberikan oleh Inggris.

Situasi ini menunjukkan peningkatan ketegangan yang signifikan di wilayah tersebut dan kekhawatiran akan eskalasi lebih lanjut dalam konflik yang telah berlangsung lama ini.

library_books Tagesschau