Lebanon mengalami situasi yang sangat memprihatinkan, di mana lebih dari 200 anak tewas dan 1.100 anak terluka dalam dua bulan terakhir. Hal ini diungkapkan oleh UNICEF pada hari Selasa. Konflik di Lebanon semakin meningkat sejak akhir September, ketika Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap kelompok Hezbollah yang didukung oleh Iran.
Menurut juru bicara UNICEF, James Elder, meskipun banyak anak yang kehilangan nyawa, reaksi dari pihak-pihak yang dapat menghentikan kekerasan ini sangat minim. Elder menyatakan, "Untuk anak-anak di Lebanon, ini menjadi normalisasi ketakutan yang sunyi."
Rata-rata, sekitar tiga anak tewas setiap harinya di Lebanon, dan Elder menambahkan bahwa terdapat kemiripan menakutkan antara apa yang terjadi pada anak-anak di Lebanon dan di Gaza. Menurut data dari PBB, 70% dari jumlah korban tewas di Gaza adalah wanita dan anak-anak.
Seperti di Gaza, saat ini ratusan ribu anak di Lebanon terpaksa mengungsi dan banyak sekolah tetap tutup akibat serangan Israel yang meluas.
Di sisi lain, seorang mediator senior dari AS mengatakan bahwa ada "peluang nyata" untuk mengakhiri konflik antara Israel dan Hezbollah. Dia menjelaskan bahwa kesenjangan antara kedua pihak semakin menyempit.
Pemerintah Lebanon dan Hezbollah telah setuju pada proposal gencatan senjata dari AS, walaupun masih ada komentar mengenai isi dari proposal tersebut. Gencatan senjata ini akan melibatkan penarikan pasukan militan dan Israel dari zona penyangga PBB di selatan Lebanon. Zona ini nantinya akan dijaga oleh ribuan pasukan perdamaian PBB tambahan dan tentara Lebanon.
Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada hari Senin menyatakan bahwa Israel akan terus melanjutkan operasi militer terhadap militan Hezbollah, meskipun gencatan senjata telah disepakati.
Situasi di Lebanon merupakan pengingat akan dampak tragis dari konflik bersenjata terhadap anak-anak yang tidak bersalah, yang seharusnya dapat menjalani kehidupan yang aman dan damai.
Lebanon anak tewas UNICEF konflik Hezbollah Israel Gaza