Pembacaan terbaru tentang Purchasing Manager’s Index (PMI) manufaktur Indonesia menunjukkan penurunan yang mengkhawatirkan pada bulan Agustus 2024. Data ini telah menjadi perhatian serius bagi para pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo).
Dewan Pakar Apindo, Danang Girindrawardhana, menyatakan bahwa penurunan PMI-365 kami sangat meresahkan. “Situasi ini sangat mengkhawatirkan, bukan hanya di sektor padat karya, seperti tekstil dan sepatu, tetapi juga menjangkau berbagai industri lain, termasuk elektronik, bahan bangunan, dan otomotif,” ujarnya dalam sebuah pernyataan pada Selasa, 3 September 2024.
PMI adalah indikator ekonomi yang mengukur kesehatan sektor manufaktur. Skor PMI di atas 50 menunjukkan pertumbuhan, sedangkan di bawah 50 menandakan kontraksi. Penurunan yang terjadi dalam waktu yang sangat cepat menjadi salah satu alasan kekhawatiran yang dirasakan para pelaku usaha.
“Kami melihat penurunan PMI terjadi begitu cepat. Jika penurunan ini terjadi secara bertahap, kami bisa mengambil langkah pencegahan yang lebih baik. Namun, kekhawatiran kami adalah penurunan yang sangat cepat ini dapat meluas,” tambah Danang.
Sebelumnya, kinerja industri Indonesia sempat menggeliat baik antara Maret hingga Mei 2024. Tetapi, dalam tiga bulan terakhir, terjadi penurunan drastis dalam PMI manufaktur Indonesia, yang menunjukkan adanya masalah serius dalam sektor ini.
Penurunan ini jelas menjadi sinyal buruk bagi perekonomian Indonesia. Para pengusaha berharap ada langkah-langkah konkret dari pemerintah untuk mengatasi isu ini agar dunia usaha dapat kembali pulih.
PMI manufaktur Apindo ekonomi Indonesia