Breaking News
    Tidak Ada Level Aman Minum Alkohol untuk Jaga Kesehatan Otak     Labour Partai Akan Suarakan Deklarasi Genosida Israel di Gaza     Ubah Pola Pikir, Ubah Nasib: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik     Mensesneg Prasetyo Cari Solusi Setelah Kartu Identitas Wartawan Dicabut    

Pawel Durow, Pendiri Telegram, Ditangkap di Prancis

Pawel Durow, pendiri layanan pengiriman pesan Telegram, baru-baru ini ditangkap di Prancis. Menurut laporan media, ia ditangkap oleh pihak berwenang pada Sabtu malam ketika mendarat di Bandara Le Bourget, Paris, setelah tiba dari Azerbaijan. Durow, seorang miliarder Rusia yang juga memiliki kewarganegaraan Prancis, diketahui sedang dicari oleh pemerintah Prancis.

Pihak berwenang Prancis menuduh Durow tidak mengambil tindakan yang cukup untuk mencegah penggunaan platformnya untuk kegiatan kriminal. Mereka juga menduga bahwa dia tidak bekerja sama dengan pihak berwenang dalam penyidikan. "Kami percaya Durow berperan dalam ketidakmampuan untuk mengatasi masalah yang berkaitan dengan perdagangan narkoba, penipuan, dan pelanggaran yang terkait dengan pelecehan anak," ungkap sumber investigasi.

Kedutaan Besar Rusia di Prancis telah mengambil tindakan terkait kasus ini. Dalam pernyataan yang dikutip oleh kantor berita negara Rusia, Tass, mereka menyatakan bahwa mereka segera melakukan langkah-langkah yang diperlukan dalam situasi seperti ini dan berusaha untuk memperjelas kondisi Durow, meskipun pengacara Durow belum mengajukan permohonan resmi kepada mereka.

Menurut saluran berita TF1 dan BFMTV, otoritas Prancis telah memulai penyelidikan awal terhadap Durow. Penyelidikan ini berfokus pada tuduhan bahwa Durow telah berkontribusi dalam kejahatan karena kurangnya respons dan ketidakcukupan kerjasama dengan penegak hukum.

Telegram, yang dipromosikan sebagai aplikasi yang tidak menjual data pengguna untuk kepentingan komersial, menghadapi kritik di Jerman dan negara lain. Platform ini dianggap sebagai sarana bagi kelompok-kelompok ekstremis kanan serta teori konspirasi. Banyak orang menuduh pengelola Telegram tidak mengambil tindakan yang cukup ketat untuk mengatasi ujaran kebencian dan ajakan kekerasan di platform mereka.

library_books