Breaking News
    Tidak Ada Level Aman Minum Alkohol untuk Jaga Kesehatan Otak     Labour Partai Akan Suarakan Deklarasi Genosida Israel di Gaza     Ubah Pola Pikir, Ubah Nasib: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik     Mensesneg Prasetyo Cari Solusi Setelah Kartu Identitas Wartawan Dicabut    

Pemerintahan Baru Trump Mulai Berbicara dengan Iran

Pemerintahan terpilih Donald Trump telah memulai langkah baru dalam diplomasi internasional dengan melakukan pembicaraan langsung dengan Iran. Hal ini terjadi kurang dari seminggu setelah pemilihan presiden di Amerika Serikat.

Menurut laporan dari The New York Times, penasihat Trump, Elon Musk, bertemu dengan duta besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, di New York City pada hari Senin. Pertemuan ini berlangsung secara informal dan belum banyak diketahui publik.

Pertemuan antara Musk dan Iravani menunjukkan bahwa pemerintahan Trump berencana untuk melakukan diplomasi dengan cara yang berbeda, bahkan lebih dari masa jabatan pertamanya. Ini adalah langkah yang tidak biasa, mengingat pemerintahan sebelumnya jarang melakukan pertemuan langsung dengan pejabat dari Republik Islam Iran.

Selama pemerintahan Joe Biden, terdapat beberapa pertemuan dengan duta besar Iran di PBB pada akhir 2022 dan awal 2023. Tujuan dari pertemuan tersebut adalah untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir yang telah runtuh sejak 2015. Namun, pertemuan tersebut mendapatkan kritik dari kalangan Republik.

Robert Malley, mantan utusan Biden untuk Iran, menjadi sorotan dan akhirnya ditugaskan untuk cuti tidak dibayar karena tuduhan penanganan informasi rahasia yang tidak tepat. Saat ini, Malley berada dalam sorotan FBI terkait tindakan yang dilakukannya sebagai utusan Iran.

Pertemuan antara Musk, yang merupakan orang terkaya di dunia, dan Iravani menunjukkan bahwa Trump mungkin mencoba untuk mengubah cara diplomasi Amerika. Ini menandakan bahwa Trump tidak perlu bergantung pada diplomat Amerika atau bahkan calon politik untuk berbicara langsung dengan teman dan musuh AS. Bahkan, ia mungkin lebih memilih untuk tidak menggunakan mereka sama sekali.

Pada saat ketegangan tinggi antara Iran dan AS pada tahun 2024, terutama terkait dengan konflik Israel di Gaza dan Lebanon, pejabat tinggi Timur Tengah Biden hanya melakukan pembicaraan tidak langsung dengan Iran. Oman menjadi tempat utama untuk negosiasi semacam itu, di mana diplomat Arab berperan sebagai penghubung antara kedua belah pihak.

Posisi "penghubung" ini, yang telah dicoba oleh Turki, Oman, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, bisa menjadi tidak perlu jika Trump menggunakan warga AS untuk berbicara langsung.

library_books Middleeasteye