Breaking News
    Tidak Ada Level Aman Minum Alkohol untuk Jaga Kesehatan Otak     Labour Partai Akan Suarakan Deklarasi Genosida Israel di Gaza     Ubah Pola Pikir, Ubah Nasib: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik     Mensesneg Prasetyo Cari Solusi Setelah Kartu Identitas Wartawan Dicabut    

KfW Dukung Proyek Panas Bumi di Poco Leok, Warga Menolak

Jakarta – KfW, bank pembangunan dari Jerman, terlibat dalam proyek pengembangan energi panas bumi di Poco Leok. Mereka memberikan pembiayaan sebesar 150 juta euro untuk membantu biaya pengembangan Unit V PLTP Ulumbu, serta Unit 2 dan 3 PLTP Mataloko. Pembiayaan ini dilakukan melalui perjanjian utang langsung tanpa jaminan antara Pemerintah Jerman dan PT PLN.

Perjanjian pendanaan dari KfW ditandatangani pada bulan Oktober 2018. Namun, proyek ini menuai kontroversi. Pada tanggal 3 September 2024, dua anggota tim independen dari Bank KfW mengunjungi Poco Leok untuk beraudiensi dengan warga setempat. Kunjungan ini dilakukan di tengah penolakan yang kuat dari masyarakat terhadap proyek tersebut.

PLN berupaya untuk melanjutkan pengerjaan operasi panas bumi meskipun banyak warga yang menolak. Penolakan ini tidak tanpa alasan. Warga mengingat pengalaman buruk dari proyek ekstraksi panas bumi sebelumnya yang terjadi di Mataloko dan lokasi lain, yang menyebabkan korban jiwa. Di Poco Leok, dampak dari operasi panas bumi terlihat jelas, di mana banyak warga kehilangan mata pencaharian karena ladang mereka rusak akibat semburan panas.

Contoh lain yang mengkhawatirkan datang dari Sorik Marapi, Mandailing Natal, Sumatera Utara, di mana setidaknya lima warga tewas akibat kebocoran gas H2S yang mematikan. Insiden ini semakin menguatkan alasan warga untuk menolak proyek panas bumi di Poco Leok.

Proyek ini tidak hanya menimbulkan masalah ekonomi, tetapi juga berdampak pada keselamatan masyarakat. Aktivis dan warga setempat telah menyuarakan keprihatinan mereka, tetapi suara mereka tampaknya tidak didengarkan. Bahkan, penolakan yang mereka sampaikan berujung pada tindakan kriminalisasi terhadap seorang jurnalis yang meliput isu tersebut serta tiga warga lainnya, yang semakin memperkeruh situasi.

Warga Poco Leok berjuang untuk hak mereka atas tanah dan kehidupan yang lebih baik. Mereka menuntut agar suara mereka diperhatikan dan dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan mengenai proyek-proyek yang berdampak pada kehidupan mereka.

library_books Jatamnas