Selama 90 tahun terakhir, peramal pemilu telah mengandalkan satu alat utama dalam meramalkan hasil pemilu, yaitu survei. Namun, Seth Stephens-Davidowitz, seorang ilmuwan data, menyatakan dalam esai tamu bahwa bergantung pada tanggapan beberapa ribu orang yang kebetulan mengangkat telepon adalah semakin tidak relevan di dunia modern ini.
Stephens-Davidowitz berpendapat bahwa ada bukti yang menunjukkan bahwa data pencarian di internet dapat memberikan kekuatan prediktif yang kaya terkait pemilu. Menariknya, cara orang mencari informasi di internet bisa menunjukkan preferensi politik mereka, bahkan lebih dari survei tradisional.
Sebagai contoh, ia menjelaskan bahwa orang yang mencari "debat Trump Harris" cenderung lebih mendukung Donald Trump dibandingkan dengan mereka yang mencari "debat Harris Trump". Hal ini menunjukkan bahwa pola pencarian dapat memberikan wawasan tentang dukungan politik yang tidak selalu terlihat pada survei.
"Data pencarian dapat mengungkapkan hal-hal yang mungkin tidak disadari oleh pencari itu sendiri," kata Stephens-Davidowitz. Ini menunjukkan bahwa perilaku online kita bisa menjadi indikator yang kuat tentang bagaimana orang akan memilih dalam pemilu.
Dengan perkembangan teknologi dan internet, cara kita memahami perilaku pemilih juga perlu berubah. Penggunaan data pencarian sebagai alat untuk meramalkan hasil pemilu bisa jadi langkah penting untuk memahami dinamika politik yang sedang berlangsung.
Oleh karena itu, sangat penting bagi para peneliti dan analis politik untuk mempertimbangkan data pencarian sebagai bagian dari alat prediksi mereka di masa depan.
Sumber ilustrasi: @dan.will
data pencarian pemilu prediksi Seth Stephens-Davidowitz