Jakarta – Kebijakan energi yang dijanjikan oleh Presiden terpilih Donald Trump mungkin tidak sepenuhnya mengancam transisi hijau global, meskipun banyak yang khawatir. Trump telah berjanji untuk membatalkan Undang-Undang Pengurangan Inflasi (IRA) yang disahkan oleh Partai Demokrat pada tahun 2022. Ia menyebutnya sebagai "tipu daya hijau" yang menghabiskan dana hingga $500 miliar untuk proyek energi terbarukan.
Perusahaan teknologi bersih dan para pendukungnya merasa khawatir kehilangan manfaat seperti kredit pajak investasi yang dapat mencapai 30% hingga 50% dari biaya proyek. Reaksi alarm juga datang dari kelompok lingkungan dan investor di saham energi bersih setelah kemenangan Trump.
Namun, pembatalan IRA bukanlah hal yang pasti. Banyak proyek energi terbarukan telah menciptakan lapangan kerja dan menarik investasi ke distrik Kongres yang dikuasai oleh Partai Republik. Ini menunjukkan bahwa ada potensi manfaat bagi kebijakan energi bersih meskipun ada ancaman dari kebijakan Trump.
Selain itu, beberapa kebijakan Trump, seperti pemotongan tarif pajak korporasi dan pengurangan birokrasi, dapat memberikan keuntungan bagi sektor teknologi bersih. Pengurangan waktu yang dibutuhkan untuk meninjau proyek lingkungan juga dapat mempercepat pembangunan proyek energi hijau dan jaringan listrik.
Dengan berbagai kemungkinan yang ada, masa depan transisi hijau mungkin tidak segelap yang dibayangkan banyak orang. Kebijakan yang akan diambil Trump masih harus dilihat, dan efeknya terhadap energi terbarukan serta lapangan kerja dalam sektor ini akan sangat tergantung pada keputusan yang diambil di masa mendatang.
Donald Trump kebijakan energi transisi hijau IRA energi terbarukan