Arab Saudi saat ini sedang menghadapi tantangan besar dengan proyek megakota futuristiknya, Neom. Proyek ini mengalami peningkatan biaya dan penundaan jadwal. Baru-baru ini, Neom juga mengganti CEO-nya yang telah menjabat selama enam tahun, Nadhmi al-Nasr.
Neom, yang direncanakan sebagai kota besar tanpa kendaraan dengan populasi satu juta orang pada tahun 2030, dan sembilan juta orang pada tahun 2040, merupakan bagian dari rencana Vision 2030 yang diprakarsai oleh Pangeran Mahkota Mohammed bin Salman. Rencana ini bertujuan untuk mengubah ekonomi Arab Saudi yang bergantung pada minyak menjadi lebih beragam.
Namun, tantangan keuangan menjadi semakin jelas. Meskipun Arab Saudi dikenal sebagai negara kaya minyak, mereka tidak mampu membiayai semua proyek megah dan inisiatif ekonomi yang telah direncanakan. Biaya proyek Neom yang awalnya diperkirakan mencapai $500 miliar, sekarang kemungkinan akan mencapai triliunan dolar menurut mantan eksekutif di proyek tersebut.
Penggantian CEO Nadhmi al-Nasr terjadi tanpa penjelasan resmi dari dewan Neom. Namun, mantan karyawan menyebutkan bahwa al-Nasr sering berselisih pendapat dengan pemilik Neom, yaitu Dana Investasi Publik, terkait dengan anggaran yang membengkak. Hingga saat ini, miliaran dolar telah dihabiskan untuk mempersiapkan wilayah gurun untuk kota yang ambisius ini.
Pangeran Mahkota mengumumkan rencana Vision 2030 pada tahun 2016 sebagai langkah cepat untuk merombak ekonomi Arab Saudi dalam waktu 14 tahun. Proyek real estat besar menjadi fokus utama dari rencana ini, namun total biaya dari semua proyek yang direncanakan kini diperkirakan mencapai triliunan dolar, jauh melebihi dana kekayaan negara yang mencapai $1 triliun. Ini termasuk investasi yang sulit untuk dijual.
Dengan semua tantangan yang dihadapi, masa depan proyek Neom masih belum pasti. Apakah proyek kota masa depan ini akan terwujud sesuai rencana, atau akan terhenti di tengah jalan? Hanya waktu yang akan menjawab.
Neom Saudi Arabia Vision 2030 proyek CEO