Kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia di Sudan semakin memburuk, menurut laporan terbaru dari Dewan Keamanan PBB. Dalam briefing tingkat tinggi yang diadakan minggu ini, Niemat Ahmadi, kepala Darfur Women Action Group, menyatakan bahwa situasi di negara tersebut sangat mengkhawatirkan.
Ahmadi mengatakan, "Saya berbicara kepada Anda dengan rasa sakit dan urgensi." Ia menekankan bahwa taktik "scorched earth" atau pembakaran tanah digunakan oleh pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) di wilayah al-Fasher, negara bagian al-Gezira, dan beberapa daerah lainnya. Taktik ini meliputi penyerangan yang tidak membedakan antara militer dan warga sipil, serta penyalahgunaan terhadap perempuan dan anak perempuan.
Rosemary DiCarlo, Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk urusan politik dan pembangunan perdamaian, menambahkan bahwa dalam dua minggu terakhir, RSF telah melakukan pembunuhan massal terhadap warga sipil dan memaksa banyak orang untuk melarikan diri dari al-Gezira, yang merupakan negara bagian pertanian antara Sungai Nil Biru dan Sungai Nil Putih.
"Kami menerima laporan tentang pelanggaran hak asasi manusia dan hukum kemanusiaan internasional yang mengerikan, termasuk kekerasan seksual yang sebagian besar dilakukan terhadap perempuan dan anak perempuan," ungkap DiCarlo.
Ahmadi juga melaporkan bahwa terdapat lebih dari 130 perempuan yang melakukan bunuh diri secara massal sebagai cara untuk menghindari kekerasan seksual lebih lanjut. Ramesh Rajasingham dari Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan menyebutkan bahwa kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak perempuan di al-Gezira telah menjadi "tanda yang mengerikan dari konflik ini."
Konflik antara RSF dan tentara Sudan telah berlangsung sejak April tahun lalu, menyebabkan ribuan orang tewas dan 11 juta orang mengungsi, sepertiga dari mereka melarikan diri ke luar negeri. Pada akhir Oktober, lebih dari 100 orang terbunuh setelah RSF yang didukung kuat oleh Uni Emirat Arab meluncurkan serangkaian serangan brutal di al-Gezira, menyusul pembelotan seorang komandan tinggi.
Situasi di Sudan menunjukkan betapa pentingnya perhatian dan bantuan internasional untuk membantu mereka yang terjebak dalam konflik ini.
Sudan PBB kekerasan seksual pelanggaran hak asasi manusia