JAKARTA – Sudah 26 tahun berlalu sejak Tragedi Semanggi I, namun rasa sakit yang dirasakan Bu Sumarsih, seorang ibu yang kehilangan anaknya, masih terasa sampai hari ini. Wawan, anaknya, tewas akibat kekerasan aparat pada 13 November 1998 saat ia menjadi relawan medis dalam aksi protes.
Bu Sumarsih, yang saat ini berusia lebih dari 60 tahun, mengungkapkan, "Anak yang dicintai meninggal dalam waktu sekejap itu sakit rasanya." Cinta dan kehilangan yang dialaminya telah bertransformasi menjadi semangat juang untuk menuntut keadilan bagi Wawan dan semua korban lainnya.
Selama bertahun-tahun, Bu Sumarsih telah menghadiri Aksi Kamisan sebanyak 839 kali. Aksi ini adalah sebuah gerakan di mana para keluarga korban pelanggaran hak asasi manusia berkumpul dan menuntut tanggung jawab dari pemerintah. Mereka berkumpul di depan Istana Kepresidenan untuk menuntut keadilan yang hingga kini belum juga terpenuhi.
Pada Tragedi Semanggi I, sebanyak 17 orang tewas dan ratusan lainnya mengalami luka-luka akibat penembakan aparat. Meskipun pemerintahan telah berganti-ganti, janji untuk memberikan keadilan bagi para korban masih belum terwujud. Kejaksaan Agung diharapkan segera melakukan penyidikan berdasarkan penyelidikan awal dan rekomendasi dari Komnas HAM, sesuai dengan Undang-Undang Pengadilan HAM.
Bu Sumarsih adalah simbol perjuangan para keluarga korban yang tidak mau diam dan menolak untuk melupakan kejadian tragis tersebut. Ia terus berjuang, berharap suatu hari nanti keadilan akan ditegakkan untuk Wawan dan semua korban lainnya.
Tragedi Semanggi I Bu Sumarsih keadilan Wawan aksi Kamisan