Breaking News
    Tidak Ada Level Aman Minum Alkohol untuk Jaga Kesehatan Otak     Labour Partai Akan Suarakan Deklarasi Genosida Israel di Gaza     Ubah Pola Pikir, Ubah Nasib: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik     Mensesneg Prasetyo Cari Solusi Setelah Kartu Identitas Wartawan Dicabut    

Donald Trump Siap Pilih Kabinet, Khawatir Konfirmasi Senat

Donald Trump Siap Pilih Kabinet, Khawatir Konfirmasi Senat

Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sudah mulai memilih anggota kabinetnya untuk pemerintahan mendatang. Namun, ia menyatakan kekhawatirannya mengenai proses konfirmasi oleh Senat.

Pada hari Minggu, Trump mengungkapkan melalui akun Twitter-nya bahwa setiap anggota Partai Republik yang ingin menjadi pemimpin mayoritas Senat yang baru terpilih, yang akan mulai bertugas pada bulan Januari, harus memberinya izin untuk melakukan "Recess Appointments". Ia menekankan bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk memastikan pilihan-pilihannya untuk posisi penting di pemerintahan federal dapat dikonfirmasi dengan "cepat".

Salah satu senator Republik dari Florida, Rick Scott, yang berharap untuk mendapatkan posisi pemimpin mayoritas, setuju dengan usulan Trump. Selain itu, dua senator lainnya, John Thune dan John Cornyn, juga menunjukkan keterbukaan terhadap ide tersebut.

Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan "recess appointment"? Istilah ini merujuk pada kekuasaan presiden untuk menunjuk pejabat tinggi ketika Senat dalam masa istirahat. Dalam praktiknya, hal ini memungkinkan presiden untuk mengisi posisi yang kosong tanpa harus menunggu proses konfirmasi yang biasanya memakan waktu.

Kekuasaan ini sering kali menjadi topik perdebatan, karena memungkinkan presiden untuk mengambil tindakan cepat, tetapi juga dapat menghindari proses konfirmasi yang seharusnya dilakukan oleh Senat.

Trump tampaknya sangat ingin memanfaatkan kekuasaan ini untuk memastikan bahwa kabinetnya dapat segera bekerja tanpa hambatan. Dengan adanya pemilihan mendatang, banyak yang menanti untuk melihat bagaimana situasi ini akan berkembang.

Foto: Getty Images

library_books Theeconomist