Breaking News
    Tidak Ada Level Aman Minum Alkohol untuk Jaga Kesehatan Otak     Labour Partai Akan Suarakan Deklarasi Genosida Israel di Gaza     Ubah Pola Pikir, Ubah Nasib: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik     Mensesneg Prasetyo Cari Solusi Setelah Kartu Identitas Wartawan Dicabut    

Aksi Solidaritas untuk Palestina Meriahkan Ulang Tahun Perang Israel

Pada ulang tahun pertama perang Israel di Gaza, gerakan solidaritas untuk Palestina menggelar demonstrasi nasional ke-21. Sekitar 300.000 orang ikut serta dalam aksi ini, menurut keterangan dari panitia, menjadikannya salah satu protes terbesar dalam 12 bulan terakhir.

Selama setahun terakhir, demonstrasi ini tidak pernah sepi peminat. Aksi terkecil yang diadakan berhasil menarik 100.000 orang, sementara aksi terbesar pada Hari Gencatan Senjata tahun lalu dihadiri oleh lebih dari 800.000 orang. Dalam sejarah, jumlah peserta seperti ini menunjukkan betapa besarnya perhatian masyarakat terhadap isu Palestina.

Gerakan solidaritas untuk Palestina telah menjadi fenomena yang menarik perhatian banyak orang. Di era sebelum perang Irak, mobilisasi yang melibatkan 200.000 orang sudah dianggap sangat besar. Contohnya, protes terbesar terhadap perang Vietnam atau demonstrasi menentang pajak pemungutan suara pada tahun 1990.

Namun, gerakan Palestina telah mengubah ukuran tersebut. Dalam abad ini, tidak ada gerakan lain yang mampu mengumpulkan massa sebanyak ini dalam waktu yang singkat.

Di sisi lain, ada juga bentuk protes lain yang memberikan dampak signifikan, seperti pemogokan besar-besaran. Contohnya, pemogokan penambang pada tahun 1984-1985, pemogokan di awal tahun 1970-an yang menyebabkan jatuhnya pemerintahan Edward Heath, dan Pemogokan Umum tahun 1926. Tetapi dalam hal demonstrasi di jalan, hanya protes terhadap perang Irak, gerakan suffragette, dan Chartists yang terlintas dalam pikiran.

Saat ini, gerakan solidaritas Palestina menghadapi dua tantangan baru: tantangan analitis dan tantangan taktis. Setahun lalu, perang Israel hanya terfokus pada Gaza. Kini, Israel memperluas ofensifnya tidak hanya di Gaza tetapi juga di Tepi Barat, serta menyerang Lebanon, Suriah, dan Yaman. Konflik ini dapat menjadi yang paling serius dan berdampak besar di masa depan.

Oleh karena itu, gerakan Palestina perlu lebih efektif. Ini penting untuk mempertajam analisis mereka agar tetap relevan dengan perkembangan perang yang semakin meluas. Selain itu, perlu tetap fokus pada mobilisasi massa, yang memberikan perlindungan terhadap aksi langsung.

library_books Middleeasteye