Amsterdam, Belanda – Kekerasan yang terjadi di Amsterdam sebelum dan setelah pertandingan sepak bola antara klub Maccabi Tel Aviv dan Ajax telah memicu reaksi keras dari politisi Barat. Beberapa politisi dan media arus utama mengklaim bahwa para penggemar Israel "diburu" oleh geng-geng jalanan Belanda yang sebagian besar terdiri dari pemuda keturunan Arab dan Muslim.
Klaim ini menggambarkan peristiwa tersebut sebagai contoh meningkatnya antisemitisme di Eropa, yang menurut mereka telah diimpor dari Timur Tengah. Beberapa pernyataan bahkan mengaitkan insiden tersebut dengan sejarah kelam Eropa, termasuk masa-masa ketika orang Yahudi dianiaya.
Presiden AS yang akan segera meninggalkan jabatannya, Joe Biden, menyebut serangan terhadap para penggemar Israel sebagai serangan yang "keji" dan mengingatkan pada "momen kelam dalam sejarah ketika orang Yahudi dianiaya".
Namun, banyak pengamat mengkritik narasi ini, berpendapat bahwa kekerasan yang terjadi tidak dapat disamakan dengan kekerasan historis yang dialami oleh orang Yahudi di Eropa. Mereka menekankan bahwa kekerasan ini lebih merupakan hasil dari ketegangan sosial yang sudah lama ada di masyarakat Belanda.
Sementara itu, beberapa pihak berpendapat bahwa sikap Barat yang terus menerus mendukung Israel dan menargetkan populasi Arab dan Muslim justru berkontribusi pada meningkatnya ketegangan dan potensi kekerasan di masa depan. Mereka mengingatkan bahwa diskriminasi dan rasisme di Eropa tidak hilang; hanya saja, kini telah menemukan sasaran baru.
Kekerasan di Amsterdam menunjukkan betapa rumitnya situasi ini, dan bagaimana narasi-narasi yang dibangun oleh politisi dan media dapat mempengaruhi pandangan masyarakat.
Kejadian ini mengingatkan kita bahwa analisis politik dan media saat ini semakin sulit, karena sering kali terpisah dari kenyataan di lapangan.
Amsterdam kekerasan Maccabi Tel Aviv Ajax antisemitisme