Topi matahari yang terbuat dari bambu dan dicuri dari masyarakat adat Borneo kini akan kembali ke tempat asalnya. Topi tersebut diambil dari masyarakat Kenyah Badeng di Sarawak, Borneo, selama ekspedisi perang yang dipimpin oleh Inggris pada tahun 1895 dan 1896.
Topi ini kemudian diakuisisi oleh Pitt Rivers Museum di Oxford pada tahun 1923, namun belum pernah dipamerkan kepada publik. Direktur museum, Prof Dr Laura Van Broekhoven, menyatakan bahwa dia "senang topi matahari itu akan kembali ke rumahnya", mengingat topi tersebut "diambil dengan sangat kasar".
Sarawak, yang sekarang menjadi bagian dari Malaysia modern, pernah diperintah sebagai monarki independen oleh keluarga Brooke Inggris antara tahun 1841 hingga 1941. Keluarga ini, yang dikenal sebagai Raja Putih, secara teratur memerintahkan ekspedisi perang sebagai cara untuk menangani perlawanan dari penduduk adat di daerah tersebut.
Kembalinya topi matahari ini merupakan langkah penting dalam mengembalikan warisan budaya yang hilang. Banyak artefak budaya seperti ini yang diambil selama masa kolonial dan kini mulai dikembalikan ke negara asalnya. Proses pengembalian artefak budaya adalah bagian dari upaya untuk memperbaiki hubungan antara negara-negara bekas jajahan dan mantan penjajah.
Keputusan untuk mengembalikan topi matahari ini diharapkan dapat menginspirasi lembaga lain untuk melakukan hal yang sama dengan artefak yang mereka miliki. Masyarakat Kenyah Badeng sangat menghargai topi ini, yang merupakan bagian dari identitas dan sejarah mereka.
Kita nantikan perkembangan selanjutnya mengenai apa yang akan terjadi setelah topi matahari ini kembali ke Borneo.
topi matahari Borneo budaya Kenyah Badeng Inggris