Jakarta Selatan – Baru-baru ini, Rumah Sakit Medistra menjadi perbincangan hangat di media sosial. Penyebabnya adalah dugaan bahwa rumah sakit ini membatasi pegawai untuk menggunakan hijab. Hal ini terungkap dari sebuah surat yang ditulis oleh seorang dokter bernama Diani Kartini. Surat tersebut viral setelah dipublikasikan pada Kamis, 29 Agustus lalu.
Menurut informasi yang beredar, surat itu berisi pengaduan mengenai kebijakan larangan bagi pelamar tenaga kesehatan yang ingin mengenakan hijab. Kebijakan ini tentunya menimbulkan pertanyaan dan kritik dari masyarakat, terutama bagi mereka yang mempercayai hak untuk berbusana sesuai dengan keyakinan agama masing-masing.
Manajemen RS Medistra saat ini sedang menangani masalah ini. Direktur RS Medistra, Agung Budisatria, mengungkapkan bahwa pihaknya akan mengontrol proses rekrutmen untuk memastikan bahwa tidak ada diskriminasi terhadap tenaga kesehatan yang ingin mengenakan hijab. "Rumah Sakit Medistra inklusif dan terbuka bagi siapa saja yang mau bekerja sama untuk menghadirkan layanan kesehatan terbaik bagi masyarakat," ujar Agung Budisatria.
Kebijakan ini menuai reaksi beragam dari masyarakat. Banyak yang mendukung hak untuk berbusana sesuai dengan ajaran agama, sementara yang lain memahami upaya rumah sakit untuk menciptakan lingkungan kerja yang profesional dan bebas dari sorun. Situasi ini menggambarkan pentingnya balance antara hak pribadi dan kebijakan institusi.
Ke depan, masyarakat berharap agar RS Medistra dapat memperjelas kebijakan terkait hijab dan hak pegawai, sehingga situasi serupa tidak terjadi lagi di masa mendatang.
RS Medistra hijab dokter rekrutmen kesehatan