Dalam pemilihan yang berlangsung pada hari Selasa, mantan Presiden Donald Trump berhasil mengalahkan Wakil Presiden Kamala Harris. Kemenangan ini terjadi di beberapa negara bagian yang dikenal sebagai swing states, di mana pemilih menunjukkan dukungan yang kuat terhadap Trump. Banyak pengamat politik sepakat bahwa fokus utama para pemilih dalam pemilihan ini adalah masalah ekonomi.
Trump, sebagai calon dari Partai Republik, berhasil menarik perhatian banyak pemilih yang merasa frustrasi dengan naiknya biaya hidup. Ia menuduh Presiden Joe Biden dan meningkatnya jumlah imigran sebagai penyebab inflasi setelah pandemi, yang menyebabkan harga barang-barang seperti telur dan asuransi mobil melonjak.
Mantan pengusaha ini bahkan mengklaim bahwa negara berada di ambang depresi ekonomi, meskipun pernyataan tersebut tidak akurat. Dalam kampanyenya, Trump sering kali menjanjikan solusi untuk mengatasi masalah ekonomi yang dirasakan oleh banyak orang. Beberapa janji tersebut termasuk deportasi massal imigran, pemotongan pajak yang besar, serta pengaturan suku bunga kartu kredit dan pembayaran bunga pinjaman mobil agar dapat dikurangkan pajaknya.
Meskipun beberapa usulan Trump bisa berdampak besar, ada juga kemungkinan bahwa beberapa di antaranya justru akan menambah biaya bagi konsumen. Apakah ia dapat merealisasikan janji-janji tersebut masih menjadi tanda tanya. Namun, satu hal yang jelas: pemilih menginginkan perubahan dalam kondisi ekonomi saat ini.
Donald Trump Kamala Harris pemilihan ekonomi inflasi