Perusahaan logistik asal Amerika Serikat, Global Delivery Company (GDC), baru-baru ini mengungkapkan rencana mereka untuk mengirimkan bantuan ke Gaza utara. Rencana ini telah dibahas dengan pejabat pemerintah Israel dan melibatkan penggunaan tentara bayaran untuk keamanan pengiriman bantuan.
Kepala GDC, Moti Kahana, menjelaskan bahwa mereka berencana untuk membangun pusat distribusi di bekas fasilitas bea cukai yang dikelola oleh Hamas. Menurutnya, rencana ini didukung oleh pejabat pertahanan dan militer, meskipun belum mendapatkan persetujuan dari kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Kahana juga mengkritik Netanyahu, menuduhnya "bermain politik" dengan bantuan kemanusiaan. "Dengan pemecatan Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant dan terpilihnya Donald Trump sebagai presiden AS, arah kebijakan pemerintah Israel masih belum jelas," kata Kahana.
Ia menambahkan, "Saya rasa Trump akan membiarkan pemerintah Israel melakukan apa pun yang mereka inginkan," sambil menegaskan penolakannya terhadap penciptaan pemukiman Yahudi di Gaza.
Rencana GDC, yang telah diperlihatkan kepada media dan sempat dipublikasikan di situs web GDC, mengusulkan pembuatan pusat distribusi bantuan di dekat perbatasan Beit Hanoun (Erez), yang merupakan titik masuk utama ke Gaza utara dari Israel. GDC berpendapat bahwa menggunakan lokasi ini akan menunjukkan "kendali simbolis atas fasilitas bekas Hamas."
Dalam rencananya, GDC mengusulkan untuk menempatkan 40 orang sebagai penjaga tetap di pusat bantuan tersebut. Selain itu, dua tim yang masing-masing terdiri dari tujuh orang akan menggunakan mobil lapis baja untuk mengamankan konvoi bantuan yang terdiri dari hingga 20 truk bantuan. Ada juga dua tim reaksi cepat yang terdiri dari 13 orang yang siap siaga dengan senjata berat.
Proposal ini, yang diberi judul "Gaza Pilot Concept", juga mencakup pembuatan "komunitas berpagar" di kota Beit Hanoun, yang akan dilindungi oleh pengamanan dari pasukan Israel, dengan distribusi bantuan juga direncanakan untuk lokasi-lokasi di Beit Lahia dan kamp pengungsi Jabalia.
Rencana ini menunjukkan bagaimana situasi di Gaza terus menjadi perhatian internasional, terutama dalam konteks pengiriman bantuan kemanusiaan. Masyarakat dunia berharap agar bantuan dapat disalurkan dengan aman dan efektif untuk membantu warga Gaza yang membutuhkan.
logistik bantuan Gaza tentara bayaran Israel