Pada pemilihan presiden di Amerika Serikat, untuk ketiga kalinya berturut-turut, hasil polling kembali meremehkan antusiasme terhadap Donald Trump. Hal ini menunjukkan bahwa banyak pemilih yang mungkin tidak terdeteksi oleh survei yang dilakukan.
Secara keseluruhan, kesalahan dalam polling kali ini jauh lebih kecil dibandingkan sebelumnya. Survei berhasil menangkap kontes yang ketat dalam suara populer nasional dan memprediksi persaingan yang ketat di setiap negara bagian yang menjadi kunci.
Namun, berbeda dengan pemilihan tahun 2016, di mana kesalahan polling terfokus pada beberapa negara bagian tertentu, kali ini kesalahan tersebut hampir merata di seluruh negara bagian dan polling nasional. Di tujuh negara bagian kunci, rata-rata polling meremehkan margin dukungan untuk Trump antara 1,5 hingga 3,5 poin. Hal ini terlihat jelas dalam grafik yang disajikan oleh The Economist.
Pertanyaannya, mengapa hal ini bisa terjadi untuk ketiga kalinya? Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hasil polling, termasuk cara pemilih menanggapi survei dan bagaimana polling tersebut dilakukan. Banyak pemilih mungkin merasa tidak nyaman untuk mengungkapkan dukungan mereka secara terbuka, terutama untuk kandidat yang kontroversial seperti Trump.
Dengan adanya kesalahan polling yang berulang ini, penting bagi para peneliti dan analis untuk mengevaluasi metode yang digunakan dalam mengumpulkan data. Hal ini bisa menjadi pelajaran besar bagi mereka yang ingin memahami dinamika pemilih di AS.
Kesalahan dalam memprediksi dukungan pemilih ini menekankan betapa sulitnya untuk mengukur dengan akurat opini publik, terutama dalam konteks politik yang sangat dinamis. Ke depannya, kita mungkin akan melihat perubahan dalam cara polling dilakukan agar lebih mencerminkan realitas di lapangan.
Donald Trump polling pemilihan presiden AS dukungan