Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani Indrawati, menyatakan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah setelah terpilihnya kembali Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) masih lebih baik dibandingkan dengan nilai tukar mata uang negara-negara lain.
Dalam pernyataannya, Sri Mulyani menjelaskan bahwa nilai tukar dolar AS mengalami apresiasi sebesar 3,13 persen. Sedangkan, nilai tukar rupiah mengalami depresiasi sebesar 2,68 persen sejak awal tahun ini (year-to-date/ytd).
Meskipun rupiah mengalami penurunan, Sri Mulyani mengungkapkan bahwa depresiasi mata uang beberapa negara lain lebih besar daripada rupiah. Contohnya, peso Filipina terdepresiasi sebesar 5,69 persen, won Korea Selatan mengalami penurunan sebesar 6,79 persen, dan yen Jepang terdepresiasi sebesar 7,78 persen.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada tantangan di pasar internasional, kondisi rupiah masih lebih stabil dibandingkan dengan beberapa mata uang lainnya.
Sri Mulyani juga menekankan pentingnya penguatan ekonomi domestik untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Ia berupaya memastikan bahwa pemerintah akan terus melakukan langkah-langkah yang tepat untuk mendukung perekonomian Indonesia.
Dengan situasi ini, masyarakat diharapkan tetap tenang dan tidak panik terhadap fluktuasi nilai tukar yang terjadi. Menjaga stabilitas ekonomi adalah hal yang sangat penting untuk kesejahteraan negara.
rupiah Donald Trump Sri Mulyani depresiasi nilai tukar