Dalam hasil pemilu presiden Amerika Serikat baru-baru ini, terdapat satu pemenang asal Inggris, yaitu pemimpin Partai Reformasi, Nigel Farage. Di sisi lain, Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, dianggap sebagai pecundang dalam konteks ini. Selain itu, mantan Perdana Menteri Boris Johnson juga disebut-sebut sebagai sosok yang mungkin berperan sebagai "joker" dalam situasi ini.
Sejarah menunjukkan bahwa politik Amerika sering kali mempengaruhi peristiwa di Inggris. Contoh yang paling jelas adalah hubungan antara Margaret Thatcher dan Ronald Reagan, George Bush Senior dan John Major, serta Bill Clinton dan Tony Blair. Kini, Donald Trump, yang mungkin merupakan presiden paling kanan dalam sejarah AS, bersiap untuk kembali ke Gedung Putih.
Di Inggris, Farage dikenal sebagai pengikut dekat Trump. Keduanya memiliki kesamaan dalam pandangan politik populis dan kanan jauh. Trump mengenal dan menyukai Farage, yang dikenal karena cara berpikir dan pendekatannya yang unik. Menurut pengamat, Farage memiliki pengaruh besar dalam cara Trump memahami Inggris, lebih dari siapa pun di Inggris lainnya.
Kedua tokoh ini telah meraih kesuksesan dengan memanfaatkan kebencian, perpecahan, dan ketakutan akan imigrasi massal. Dengan Trump kembali menjabat sebagai presiden, Farage kemungkinan akan fokus pada proyek politik terakhirnya: menghancurkan Partai Konservatif tradisional dan menggantinya dengan versi domestik dari Partai Republik Trump.
Hal ini berarti bahwa Farage berusaha menyatukan gerakan politik Reformasi yang dipimpinnya dengan Partai Konservatif yang kini semakin lemah di bawah kepemimpinan Kemi Badenoch.
Dengan perkembangan ini, dunia politik Inggris akan semakin menarik untuk diamati, terutama bagaimana dampak pemilu AS dapat membentuk masa depan politik di Inggris.
Pemilu AS Nigel Farage Keir Starmer politik Inggris