Jakarta, 8 November 2024 - PT Fast Food Indonesia Tbk, pengelola restoran KFC di Indonesia, mengalami kerugian bersih yang sangat besar mencapai Rp557,08 miliar hingga kuartal ketiga tahun 2024. Kerugian ini meningkat 265,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2023, di mana kerugian tercatat sebesar Rp152,41 miliar.
Dari laporan keuangan yang dirilis pada Rabu, 6 November 2024, penyebab utama dari peningkatan kerugian ini adalah penurunan pendapatan yang signifikan. Pendapatan Fast Food Indonesia selama sembilan bulan ini turun sebesar 22,28 persen, dari Rp4,62 triliun menjadi Rp3,59 triliun.
Rincian pendapatan yang mengalami penurunan mencakup pendapatan dari makanan dan minuman, dan juga komisi dari penjualan konsinyasi serta jasa layanan antar. Pendapatan dari makanan dan minuman turun menjadi Rp3,57 triliun, komisi dari penjualan konsinyasi menjadi Rp15,37 miliar, dan jasa layanan antar turun menjadi Rp1,41 miliar.
Manajemen PT Fast Food Indonesia mengungkapkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan telah mengalami kerugian yang berulang. Untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2024, rugi periode berjalan mencapai Rp558,75 miliar. Dalam laporan tersebut juga disebutkan bahwa total liabilitas lancar konsolidasi perusahaan melebihi total aset lancar konsolidasi sebesar Rp1,23 triliun per 30 September 2024, meningkat dibandingkan dengan Rp1,02 triliun pada 31 Desember 2023.
Situasi ini menunjukkan tantangan besar yang dihadapi oleh PT Fast Food Indonesia dalam mempertahankan kinerja keuangannya di tengah persaingan yang ketat di industri makanan cepat saji.
Dengan terus mengalami kerugian, perusahaan harus mencari strategi baru untuk meningkatkan pendapatan dan mengurangi biaya agar dapat kembali ke jalur keuntungan.
KFC rugi bersih PT Fast Food Indonesia laporan keuangan