Presiden demokratis calon Kamala Harris kini hanya mempunyai 75 hari untuk meyakinkan pemilih di seluruh Amerika Serikat. Dalam pidato penutup di konvensi partainya di Chicago, ia menguraikan rencana dan program untuk masa kepresidenannya. Harris, yang juga merupakan Wakil Presiden saat ini, secara resmi menerima pencalonannya untuk kursi kepresidenan.
“Saya tahu bahwa malam ini ada orang-orang dengan pandangan yang berbeda yang sedang menyaksikan. Saya ingin kalian tahu: Saya berjanji untuk menjadi presiden bagi semua orang Amerika,” ujarnya. Harris menekankan pentingnya menjalin kebersamaan dan melangkah menuju masa depan yang baru. Ia menyatakan keinginannya untuk melampaui batasan-batasan partai dan kelompok, agar semua warga negara Amerika bersatu.
Dalam pidatonya, Harris menyampaikan bahwa ia ingin mengatasi “kepahitan, sinisme, dan perdebatan memecah belah yang terjadi di masa lalu.” Ia juga mengingatkan pemilih bahwa ada risiko serius jika kandidat dari Partai Republik, Donald Trump, terpilih kembali. “Konsekuensi yang terjadi jika Donald Trump kembali ke Gedung Putih sangat serius,” tegas Harris, menekankan bahwa Trump hanya memperhatikan kepentingan dirinya sendiri.
Harris berjanji untuk memperjuangkan kepentingan kelas menengah serta meningkatkan persatuan dalam masyarakat. Jika terpilih menjadi presiden, ia berencana untuk melaksanakan pemangkasan pajak yang akan menguntungkan lebih dari 100 juta warga AS. “Saya ingin menjadi presiden yang tidak hanya memimpin, tetapi juga mendengarkan,” tambahnya.
Harris juga menunjukkan dukungan untuk sekutu-sekutu Amerika dan berkomitmen untuk menjalin kerjasama yang erat dengan mitra tradisional, termasuk Ukraina. Ini merupakan langkah strategis penting, terutama di tengah ketegangan global yang meningkat.
Kamala Harris pemilihan presiden AS