Serangan militer Israel di Tepi Barat yang diduduki semakin meningkat, meninggalkan Otoritas Palestina (PA) dalam keadaan lemah dan bingung. Menurut para analis, situasi ini mencerminkan ketidakmampuan PA untuk menangani serangan yang kian menggila.
Pada minggu ini, tentara Israel meluncurkan operasi militernya yang terbesar dalam beberapa dekade terakhir. Di kota-kota Jenin, Tulkarm, dan Tubas, serangan udara menggunakan drone serta penembakan oleh sniper Israel mengakibatkan tewasnya setidaknya 17 warga Palestina.
Bulldozer militer Israel juga merusak infrastruktur penting, memutuskan komunikasi dan sumber daya dari beberapa kota Palestina dan kamp pengungsi. Ini menunjukkan peningkatan tekanan dari Israel yang terjadi hampir setiap hari di wilayah yang diduduki sejak dimulainya perang di Gaza pada Oktober 2023.
Presiden Mahmoud Abbas beserta Otoritas Palestina sering kali mengutuk serangan Israel. Namun, mereka belum banyak mampu membalas serangan tersebut. Seorang anggota senior Fatah yang berbicara dengan syarat anonim menegaskan bahwa Israel berusaha mengurangi peran PA menjadi semacam pemerintah kota, bukan badan politik yang lebih besar.
Bagi banyak warga Palestina, serangan terbaru oleh Israel di Tepi Barat merupakan bagian dari rencana Menteri Keuangan sayap kanan, Bezalel Smotrich, untuk mencaplok wilayah tersebut ke dalam Israel. Anggota Fatah tersebut menyoroti bahwa penolakan terhadap tindakan Israel sedang memecah belah masyarakat Palestina, bahkan di dalam partainya sendiri.
Dia juga menambahkan bahwa semakin agresif Israel, peran Otoritas Palestina akan semakin berkurang. Akibatnya, warga Palestina merasa "memiliki kebebasan untuk membela diri dan mengatur urusan mereka secara independen tanpa bergantung pada Otoritas Palestina."
Serangan Israel Tepi Barat Otoritas Palestina