Washington, D.C. – Malam tadi, keluarga dan penggemar seni pertunjukan berkumpul di Kennedy Center untuk menyaksikan pertunjukan opera klasik Fidelio karya Beethoven. Opera ini merupakan karya agung yang lahir dari semangat Pencerahan, menggambarkan perjuangan untuk kebebasan dan kemanusiaan.
Di pusat cerita Fidelio adalah Florestan, seorang tahanan politik, dan Leonore, istrinya, yang menyamar sebagai "Fidelio" untuk menyusup ke penjara sebagai penjaga. Misi Leonore sangat berbahaya dan heroik, yaitu menyelamatkan suaminya dari cengkeraman penindasan yang menjeratnya.
Beethoven memainkan kontras yang tajam antara kegelapan dan cahaya dalam opera ini. Kegelapan bukan hanya ketiadaan cahaya, tetapi juga perlambang dari penjara, kesedihan, dan kesepian yang dialami Florestan di selnya. Sebaliknya, sinar matahari melambangkan janji kebebasan dan kembalinya kemanusiaan.
Pertunjukan ini oleh Washington National Opera menginterpretasikan drama modern awal Beethoven dalam konteks pertengahan abad ke-20. Dinding penjara yang suram mencerminkan otoritarianisme yang kelam pada masa itu, saat banyak rezim, terlepas dari ideologi, menimpakan bayangan gelap pada rakyatnya. Meskipun demikian, interpretasi ini tidak terjebak dalam politik kontemporer, sehingga menjaga keabadian visi Beethoven.
Performa yang paling mencolok berasal dari Sinéad Campbell Wallace, yang berhasil menggambarkan karakter Fidelio dengan sangat mengesankan. Penampilannya tidak hanya mencerminkan keberanian Leonore tetapi juga keyakinan Beethoven terhadap ketahanan semangat manusia.
Di zaman yang kadang terasa seberat yang digambarkan dalam opera ini, pertunjukan tersebut menjadi penghiburan dan pencerahan. Bagi masyarakat di area D.C., pengalaman menyaksikan Fidelio versi modern ini adalah sebuah kesempatan berharga untuk merasakan cahaya Pencerahan yang tak pernah padam.
Fidelio Beethoven opera Washington Kennedy Center