Pada tahun 2025, Ahmed al-Sharaa menjadi sorotan utama di New York karena menjadi pemimpin Suriah pertama yang berbicara di Sidang Umum PBB selama 60 tahun. Ia dikenal pernah berperang melawan pasukan Amerika di Irak, dan kini mencoba memperbaiki citranya di mata dunia agar hubungan Suriah dengan negara lain, terutama Amerika, membaik.
Namun, di balik panggung internasional, masalah besar sedang menimpa pemerintah Suriah sendiri. Banyak warga dan kelompok oposisi menuntut perubahan dan mengkritik kepemimpinan al-Sharaa. Masalah ini membuatnya sulit untuk menunjukkan keberhasilannya di kancah internasional.
Kunjungan dan pidatonya di PBB sempat menjadi berita utama karena menunjukkan bahwa Suriah ingin memperbaiki hubungan dengan negara-negara lain, terutama Amerika. Tapi, banyak pengamat khawatir bahwa masalah di dalam negeri bisa menghambat usaha al-Sharaa untuk mendapatkan dukungan dari dunia luar.
Di dalam negeri, rakyat Suriah menghadapi berbagai tantangan, seperti ekonomi yang sulit dan ketidakpuasan terhadap pemerintahan. Situasi ini membuat al-Sharaa harus bekerja keras untuk menjaga stabilitas dan citranya di mata warga dan dunia internasional.
Pengamat politik mengatakan bahwa keberhasilan al-Sharaa di panggung internasional tidak hanya bergantung pada pidatonya di PBB, tetapi juga pada bagaimana dia menyelesaikan masalah dalam negerinya. Jika tidak, usahanya untuk memperbaiki hubungan luar negeri bisa gagal dan berdampak buruk bagi Suriah secara keseluruhan.
Suriah Ahmed al-Sharaa PBB hubungan luar negeri masalah dalam negeri