Pada hari ini, Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, menyampaikan permintaan maaf yang tulus kepada perempuan dan gadis Greenland yang menjadi korban penyalahgunaan kontrasepsi secara paksa oleh pihak berwenang Denmark. Permintaan maaf ini diungkapkan dalam sebuah acara emosional yang dihadiri beberapa perempuan Greenland yang mengalami perlakuan tidak adil tersebut.
Sejarah kelam ini bermula sejak tahun 1960-an, ketika perempuan Inuit di Greenland dipaksa untuk menggunakan alat kontrasepsi seperti IUD (spiral), coil, atau suntikan hormonal tanpa penjelasan yang jelas dan tanpa persetujuan mereka. Penyalahgunaan ini dilakukan dengan alasan untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk Greenland yang saat itu sedang meningkat pesat karena kondisi hidup dan kesehatan yang membaik.
"Saudara perempuan, keluarga, dan warga Greenland yang saya hormati, hari ini saya merasa perlu menyampaikan satu hal penting. Maaf, maaf atas kesalahan yang dilakukan terhadap kalian karena kalian warga Greenland. Maaf atas apa yang telah diambil dari kalian dan atas rasa sakit yang ditimbulkan," ujar Frederiksen saat berpidato.
Ia menambahkan bahwa, "Saya percaya kita tidak akan mampu mencapai hubungan yang lebih setara dan adil jika kita tidak berani membuka bab-bab gelap dalam sejarah kita."
Selain Denmark, Greenland juga mengeluarkan permintaan maaf resmi bulan lalu atas peran mereka dalam perlakuan tidak manusiawi tersebut. Pengakuan ini menjadi langkah penting dalam proses rekonsiliasi dan pengakuan terhadap hak asasi manusia.
Peristiwa ini menimbulkan keprihatinan luas tentang pelanggaran hak asasi manusia dan memperlihatkan pentingnya kejujuran dan pengakuan terhadap masa lalu sebagai langkah menuju keadilan dan kedamaian. Masyarakat internasional pun mendukung upaya Denmark dan Greenland untuk menegakkan keadilan bagi para korban.
Denmark Greenland maaf perempuan Inuit kontrasepsi sejarah penyalahgunaan hak asasi manusia