Pada hari Selasa, harga minyak dunia mengalami kenaikan yang tidak terlalu besar setelah Israel menyerang pimpinan tertinggi Hamas di Qatar. Serangan ini menambah ketegangan di kawasan Timur Tengah, yang dikenal sebagai salah satu penghasil minyak terbesar di dunia.
Meskipun ketegangan meningkat, kenaikan harga minyak tidak sebesar yang diperkirakan beberapa trader. Hal ini disebabkan oleh adanya cadangan minyak yang cukup melimpah di seluruh dunia dan meningkatnya produksi dari negara-negara penghasil minyak utama, seperti Arab Saudi. Mereka berfokus untuk mempertahankan pangsa pasar mereka di tengah persaingan global.
Menurut Colin Cieszynski, seorang manajer investasi dan pakar pasar dari SIA Wealth Management, "Ketegangan di Timur Tengah biasanya mempengaruhi harga minyak saat permintaan tinggi dan pasokan terbatas." Namun, saat ini, situasinya berbeda. "Investor saat ini lebih khawatir tentang kemungkinan kekurangan permintaan daripada kekurangan pasokan," tambahnya.
Cieszynski menjelaskan bahwa ada banyak minyak yang tersedia di sistem, dan OPEC+ — kelompok negara penghasil minyak utama — bahkan meningkatkan produksinya. Hal ini membuat harga minyak tidak melonjak secara drastis meskipun ketegangan di kawasan semakin meningkat.
Ketegangan bertambah setelah pejabat Israel menyatakan bahwa mereka melakukan serangan udara terhadap pimpinan Hamas di Doha, Qatar. Qatar sendiri adalah sekutu dekat Amerika Serikat, dan Amerika Serikat telah memberi tahu Qatar tentang rencana serangan tersebut. White House menyebutkan bahwa pemerintah AS juga memberi tahu Qatar agar mereka siap menghadapi situasi ini.
Situasi ini menunjukkan bahwa konflik di Timur Tengah dapat memengaruhi harga minyak dunia, tetapi saat ini faktor utama yang mempengaruhi pasar adalah tingginya pasokan minyak dan strategi negara-negara penghasil minyak besar yang berusaha menjaga pangsa pasar mereka.
harga minyak Israel Hamas Qatar ketegangan Timur Tengah pasokan minyak konflik regional OPEC+