Museum Holocaust LA di California menarik perhatian setelah mereka menghapus sebuah posting di media sosial yang menimbulkan kontroversi. Postingan tersebut menampilkan gambar tangan manusia dari berbagai warna yang saling berpegangan dan tulisan besar yang berbunyi ‘Never again’ tidak hanya berlaku untuk orang Yahudi. Postingan ini bertujuan untuk menunjukkan dukungan terhadap kemanusiaan secara umum dan menghormati mereka yang mengalami penderitaan.
Namun, dalam waktu kurang dari sehari, postingan tersebut dihapus. Museum tersebut juga menyampaikan permintaan maaf dan berjanji untuk melakukan hal yang lebih baik di masa depan. Mereka menjelaskan bahwa postingan tersebut awalnya dibuat sebagai bagian dari kampanye untuk mempromosikan inklusivitas dan kebersamaan. Sayangnya, postingan itu disalahartikan oleh sebagian orang sebagai pernyataan politik yang terkait dengan situasi di Timur Tengah.
Dalam penjelasan resmi mereka, museum menyatakan, "Kami baru-baru ini memposting sesuatu yang merupakan bagian dari kampanye yang direncanakan untuk mempromosikan inklusivitas dan komunitas, namun mudah disalahartikan sebagai pernyataan politik terkait situasi di Timur Tengah. Itu bukan niat kami." Mereka menambahkan bahwa postingan tersebut telah dihapus untuk menghindari kebingungan lebih lanjut dan berjanji akan melakukan yang lebih baik lagi.
Seorang pengguna media sosial bernama Ryan Grim dari Dropsite News mengunggah tangkapan layar dari postingan asli tersebut dan menulis, "Bicara tentang keheningan. Tidak ada kata-kata untuk ini." Ia juga menyampaikan bahwa banyak orang mungkin telah mengeluhkan postingan tersebut sehingga akhirnya dihapus dan meminta maaf.
Selain itu, media berita The Forward yang menargetkan audiens Yahudi di Amerika menyebutkan bahwa ungkapan ‘Never again’ sering digunakan oleh komunitas Yahudi untuk melawan kekerasan senjata di AS dan penindasan terhadap minoritas Uyghur di China. Namun, sebagian orang hanya menganggap ungkapan itu sebagai pengingat Holocaust di Perang Dunia II.
Konflik di Gaza yang berlangsung hampir dua tahun juga memunculkan gambar-gambar yang mengingatkan pada tragedi Holocaust, seperti kamp-kamp yang penuh sesak dan tidak layak huni, kelaparan, dan makam massal. Banyak sejarawan dan organisasi hak asasi manusia menyebut perang di Gaza sebagai genosida, dengan lebih dari 64.000 orang tewas dan 160.000 terluka. Saat ini, kelaparan juga menjadi ancaman serius di wilayah tersebut.
Museum tersebut berjanji akan lebih berhati-hati dalam mengelola konten di media sosial mereka agar tidak menimbulkan salah paham di masa mendatang.
Holocaust museum media sosial kontroversi inclusivity