Mesir mendukung langkah untuk melucuti senjata Hamas, sebuah tindakan yang menyebabkan ketegangan kembali memanas di wilayah Gaza. Konflik ini mencuat setelah Mesir mengirim pesan kepada pemimpin Hamas di Doha, menuntut mereka menyerahkan semua senjata dan menarik pasukan dari Gaza. Mesir menegaskan bahwa mereka awalnya tidak ingin mengaitkan proses pelucutan senjata dengan negosiasi gencatan senjata.
Namun, tekanan dari negara-negara Arab seperti Uni Emirat Arab dan Arab Saudi membuat Mesir berubah sikap. Mereka akhirnya bergabung dengan negara-negara lain seperti Arab Saudi, Qatar, Turki, dan Liga Arab dalam mendukung Deklarasi New York yang menuntut Hamas menyerahkan kendali Gaza dan menyerahkan senjatanya kepada Otoritas Palestina.
Dukungan Mesir terhadap disarmament ini juga selaras dengan keinginan Israel dan Amerika Serikat yang menginginkan Hamas menyerah agar perang di Gaza segera berakhir. Mesir sebelumnya berpendapat bahwa disarmament harus menjadi bagian dari penyelesaian politik yang lebih besar, termasuk mengakhiri pendudukan Israel di wilayah Palestina.
Para sumber menyebutkan bahwa posisi Mesir telah bergeser karena tekanan dari negara-negara lain di kawasan, yang ingin melihat Hamas menyerah sebelum ada kesepakatan politik yang lebih luas. Mereka menegaskan bahwa Mesir kini mendukung proses yang disebut sebagai "surrender process" atau proses penyerahan, yang bertujuan untuk menenangkan situasi di Gaza.
Konflik ini menunjukkan betapa rumitnya upaya perdamaian di Timur Tengah, di mana berbagai pihak memiliki kepentingan dan posisi yang berbeda. Sementara itu, ketegangan di Gaza tetap tinggi, dan upaya untuk mencapai gencatan senjata masih terus dilakukan dengan berbagai tantangan yang besar.
Mesir Hamas Gaza disarmament ketegangan gencatan senjata politik Timur Tengah