Pada tahun 2025, maskapai Delta menjadi perhatian karena mulai menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk menentukan harga tiket pesawat domestik. Presiden Delta, Glen Hauenstein, mengungkapkan bahwa saat ini sekitar 3% dari harga tiket yang mereka tetapkan menggunakan AI. Targetnya adalah mencapai 20% pada akhir tahun ini. Penggunaan AI ini merupakan bagian dari revolusi teknologi dalam industri penerbangan.
Teknologi AI membantu perusahaan dalam menetapkan harga secara otomatis berdasarkan berbagai data, seperti permintaan pelanggan, musim, dan faktor ekonomi. Dengan algoritma yang canggih, AI dapat menyesuaikan harga tiket secara cepat dan efisien, sehingga maskapai bisa bersaing lebih baik di pasar.
Namun, langkah Delta ini tidak selalu disambut positif. Beberapa kelompok konsumen dan anggota parlemen mengungkapkan kekhawatiran mereka. Mereka takut bahwa penggunaan AI bisa membuat harga tiket menjadi tidak adil atau tidak transparan. Mereka juga khawatir bahwa penggunaan teknologi ini bisa menyebabkan harga menjadi semakin mahal tanpa alasan yang jelas.
Untuk menjelaskan bagaimana AI bekerja dalam penetapan harga, perusahaan pengembang perangkat lunak mereka, Fetcherr, merilis sebuah makalah putih (white paper). Makalah ini menjelaskan secara rinci proses algoritma yang digunakan dan bagaimana teknologi ini bisa berkembang ke industri lain di masa depan.
Sementara itu, para pakar teknologi menyatakan bahwa penggunaan AI dalam bisnis semakin umum dan bisa membawa manfaat besar jika diatur dengan baik. Mereka menekankan pentingnya transparansi dan pengawasan agar teknologi ini tidak disalahgunakan.
Dengan perkembangan ini, masyarakat dan pemerintah diharapkan dapat memahami dan mengawasi penggunaan AI agar hasilnya adil dan menguntungkan semua pihak.
Delta AI harga tiket teknologi penerbangan