Lebih dari 1.000 orang telah tewas akibat serangan militer Israel saat berusaha mendapatkan makanan di Gaza. Hal ini terjadi sejak dimulainya sistem distribusi yang didukung oleh AS dan Israel yang dikenal sebagai Gaza Humanitarian Foundation (GHF) pada bulan Mei. Menurut laporan terbaru dari Kantor Hak Asasi Manusia PBB, hingga 21 Juli, tercatat 1.054 orang tewas saat mencari makanan. Dari jumlah tersebut, 766 orang tewas "di sekitar" lokasi GHF, dan 288 orang tewas "di dekat konvoi bantuan dari PBB dan organisasi kemanusiaan lainnya."
"Data kami berdasarkan informasi dari berbagai sumber yang dapat dipercaya di lapangan, termasuk tim medis dan organisasi kemanusiaan serta hak asasi manusia. Data ini masih dalam proses verifikasi mengikuti metodologi ketat kami," ungkap PBB.
Namun, baik Israel maupun GHF mempertanyakan angka kematian tersebut. Keduanya, termasuk AS, menyatakan bahwa sistem bantuan ini diperlukan untuk mencegah kelompok Hamas mencuri bantuan yang disalurkan.
PBB juga menolak untuk bekerja sama dengan GHF, menyebut pengaturan tersebut tidak etis.
Sementara itu, Inggris dan 27 negara lainnya telah menyerukan penghentian segera perang di Gaza. Mereka menilai penderitaan warga sipil telah "mencapai tingkat yang baru". Dalam sebuah pernyataan bersama, mereka mengungkapkan bahwa model pengiriman bantuan Israel sangat berbahaya dan mengutuk apa yang mereka sebut "pemberian bantuan secara bertahap dan pembunuhan tidak manusiawi terhadap warga sipil" yang sedang mencari makanan dan air.
Menyikapi pernyataan tersebut, kementerian luar negeri Israel menolak dan menyebutnya "tidak terhubung dengan realitas dan memberikan pesan yang salah kepada Hamas."
Situasi di Gaza semakin memprihatinkan, dan dunia internasional terus mendesak agar konflik ini segera berakhir.
Gaza PBB kemanusiaan Israel korban jiwa