Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan kemungkinan untuk menyerang Iran lagi setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengungkapkan bahwa tiga fasilitas nuklir di Iran mengalami kerusakan berat akibat serangan pada bulan Juni lalu.
Dalam sebuah unggahan di media sosial pada hari Senin, Trump merespons pernyataan Araghchi yang mengatakan bahwa meskipun fasilitas nuklir Iran rusak akibat serangan, Tehran tidak akan menyerahkan program pengayaan nuklirnya. "Kerusakan sangat serius dan parah. Namun, kami tidak bisa menyerah pada pengayaan karena itu adalah pencapaian ilmuwan kami. Ini juga menjadi masalah kebanggaan nasional," kata Araghchi.
Di platform Truth Social miliknya, Trump mengacu pada pernyataan Araghchi mengenai kerusakan serius di situs nuklir tersebut dan berkata, "Tentu saja mereka rusak, seperti yang saya katakan, dan kami akan melakukannya lagi, jika perlu!"
Serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat pada fasilitas nuklir Fordow, Natanz, dan Isfahan di Iran terjadi pada tanggal 22 Juni. Serangan ini dilakukan dengan bantuan Israel, yang telah terlibat baku tembak dengan Tehran sejak 13 Juli. Iran menanggapi serangan tersebut dengan meluncurkan rudal balistik ke pangkalan militer al-Udeid milik AS di Qatar.
Pemerintah Washington dan Doha telah diinformasikan setidaknya satu hari sebelumnya mengenai serangan terkoordinasi tersebut. Tak lama setelah itu, Amerika Serikat mengumumkan gencatan senjata antara Israel dan Iran, setelah 12 hari pertempuran yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Sejak saat itu, banyak situs berita yang mempertanyakan seberapa besar kerusakan yang dialami oleh situs-situs nuklir Iran tersebut.
Situasi ini menunjukkan ketegangan yang terus meningkat antara Amerika Serikat dan Iran, serta dampak yang mungkin terjadi terhadap stabilitas di kawasan Timur Tengah.
Trump Iran serangan fasilitas nuklir kerusakan