Gaza, 22 Juli 2025 - Razan Abu Zaher, seorang gadis kecil berusia empat tahun, meninggal dunia akibat kelaparan di sebuah rumah sakit yang sedang runtuh. Tubuhnya yang kecil tergeletak di lantai, dengan tulang rusuknya tampak jelas. Kematian Razan bukan hanya sebuah tragedi, melainkan sebuah hukuman yang ditetapkan oleh kebijakan yang sudah lama berlangsung.
Razan bukanlah satu-satunya. Dia adalah salah satu dari ribuan anak-anak yang mengalami nasib serupa. Antara bulan Maret dan Juni, di tengah blokade total, badan PBB untuk pengungsi Palestina, Unrwa, telah memeriksa lebih dari 74.000 anak di Gaza. Dari jumlah tersebut, lebih dari 5.500 anak didiagnosis menderita malnutrisi akut yang parah, dan lebih dari 800 di antaranya sudah dalam kondisi kritis.
Situasi ini terjadi beberapa bulan setelah makanan dinyatakan sebagai ancaman. Tepung menjadi barang terlarang dan susu hanya tinggal kenangan. Sekarang, anak-anak mati di pelukan orang tua mereka. Ibu-ibu memegang bayi yang tidak lagi bisa menangis, sementara para ayah menggali kuburan dengan tangan kosong, berbisikkan lagu pengantar tidur ke dalam debu.
Gaza kini terkungkung dalam kelaparan, kematian, pengkhianatan Arab, dan pengkhianatan internasional. Mereka yang tidak mati oleh bom, kini tewas akibat kelaparan atau penyakit.
Di tengah semua itu, suara tembakan senjata terus menggema. Karena bahkan kelaparan pun tidak aman di Gaza. Ini bukan sekadar kelaparan, ini adalah kelaparan yang dijadikan senjata. Pembunuhan secara perlahan terhadap suatu bangsa - bukan dengan tali, tetapi dengan aturan yang rumit.
Israel tidak hanya menggunakan bom, tetapi juga birokrasi untuk menghancurkan Gaza. Mereka membom toko roti, menghancurkan konvoi bantuan, meratakan lahan pertanian, dan menghalangi pengiriman makanan dengan sabotase logistik. Gaza dibiarkan kelaparan dengan presisi yang sama seperti mereka menggunakan untuk membunuh.
Sejarah telah mencatat kelaparan sebagai senjata, tetapi apa yang terjadi di Gaza adalah sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tidak ada dalam sejarah modern, populasi sipil dikurung dalam sebuah wilayah yang dipagari - dilarang mendapatkan makanan, air, dan bahan bakar - sambil dibombardir dari udara, darat, dan laut.
Ini bukan sekadar pengepungan. Ini adalah pembantaian yang disiarkan ke seluruh dunia. Sebuah kamp konsentrasi di bawah serangan udara terus-menerus. Ini bukan krisis kemanusiaan; ini adalah pembantaian melalui kelaparan. Dan meskipun demikian, dunia masih menganggap ini sebagai perang.
Kematian Razan dan ribuan anak lainnya menjadi cerminan dari krisis kemanusiaan yang mendalam, yang perlu perhatian dan tindakan segera dari komunitas internasional.
Gaza Razan Abu Zaher kelaparan krisis kemanusiaan perang