Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan China kini menjadi salah satu fitur utama geopolitik di abad ke-21. Setelah tiga dekade mendominasi dunia secara unipolar, kekuatan global AS mulai menurun. Sementara itu, China terus menunjukkan kebangkitan sebagai kekuatan ekonomi, militer, dan diplomatik, yang menandakan adanya perubahan besar dalam tatanan global.
AS saat ini terlibat dalam berbagai konflik di berbagai kawasan, terutama di Timur Tengah. Namun, keterlibatan ini tidak lagi memberikan keuntungan strategis, malah semakin memperdalam pandangan bahwa AS sedang mengalami penurunan. Salah satu contoh nyata adalah dukungan AS yang tidak tergoyahkan terhadap Israel, terutama setelah serangan pada 7 Oktober, yang mulai mengubah pandangan dunia tentang legitimasi kekuasaan AS dan proyek Zionis.
Perkembangan ini menunjukkan penurunan dominasi AS dan munculnya tatanan internasional baru yang tidak lagi ditentukan hanya oleh kekuatan imperialis AS. Salah satu aspek penting dalam kebijakan AS di Timur Tengah adalah hubungan dengan Israel. Washington dan Tel Aviv memiliki tujuan strategis yang sama, seperti mengalahkan perlawanan Palestina, menahan Iran, dan mempertahankan dominasi regional. Namun, tujuan jangka panjang mereka berbeda.
Israel memiliki ambisi untuk menjadi kekuatan dominan di kawasan, dengan cita-cita maksimalis seperti proyek "Israel yang Lebih Besar". Kebangkitan gerakan nativis "Maga" yang dipelopori oleh Trump, runtuhnya kredibilitas strategis AS, munculnya China sebagai pesaing sejajar, serta melemahnya kemampuan pencegahan Israel di kawasan, telah menciptakan peluang untuk perubahan kekuasaan global yang bersejarah.
Dukungan AS yang tidak kritis terhadap ekstremisme Israel berisiko memicu gelombang ketidakstabilan baru di kawasan, yang bisa disebut sebagai Arab Spring 2.0. Ketidakstabilan ini tidak hanya akan ditujukan kepada para penguasa otoriter domestik, tetapi juga berupaya membongkar struktur rasis Zionis dan tatanan imperialis AS yang menopangnya.
Dalam situasi kritis ini, rakyat Arab dan dunia Muslim harus menemukan arah baru, yang menegaskan kedaulatan mereka dan mendefinisikan kembali tempat mereka dalam tatanan global yang adil dan multipolar.
AS China geopolitik Israel Middle East