Berlin - Partai Sosial Demokrat Jerman (SPD) melanjutkan kongres partai mereka yang berlangsung selama tiga hari di Berlin. Dalam acara tersebut, mantan Kanzler Olaf Scholz mengucapkan selamat tinggal kepada partai yang pernah dipimpinnya.
Olaf Scholz, yang kini berusia 67 tahun, berjanji untuk tetap berkomitmen pada politik sosial-demokrat meskipun ia sudah tidak menjabat lagi. Dalam pidato perpisahannya, ia menyatakan, "Saya ingin menjadi mantan Kanzler yang selalu membuat SPD merasa senang." Janji ini menunjukkan keinginan Scholz untuk terus berkontribusi pada partai dan nilai-nilai yang diperjuangkannya.
Hubungan SPD dengan mantan Kanzler lainnya, Gerhard Schröder, telah menjadi rumit dalam beberapa tahun terakhir, terutama karena kedekatannya dengan pemimpin Rusia, Vladimir Putin. Situasi ini menambah tantangan bagi SPD dalam memperkuat citra dan dukungannya di masyarakat.
Scholz juga menekankan perlunya memperbaiki hasil buruk yang didapat partai dalam pemilihan Bundestag yang lalu. Ia menyatakan, "Saya ingin berpartisipasi dalam debat yang akan membantu, dengan peran baru saya." Ia menekankan bahwa tema utama yang harus diusung adalah respek, yang merupakan nilai dasar sosial-demokrat.
Dalam konteks yang lebih luas, Scholz mengamati bahwa banyak negara kaya kini mengalami peningkatan dukungan untuk populisme kanan. Ia berpendapat hal ini berkaitan dengan kurangnya harapan untuk masa depan. "Partai-partai progresif dan sosial-demokrat tidak dapat berhasil tanpa adanya keyakinan bahwa dunia bisa menjadi lebih baik," ungkapnya. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya memastikan bahwa masyarakat tidak hanya berfungsi untuk kalangan tertentu, seperti dokter atau pengusaha, tetapi juga untuk pekerja pabrik, tenaga perawat, dan pensiunan.
"SPD memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa setiap orang dapat hidup dengan layak, dihargai, dan diakui dari berbagai perspektif kehidupan," tambah Scholz. Pernyataan ini menunjukkan komitmen kuat dari mantan Kanzler untuk memperjuangkan kesejahteraan semua lapisan masyarakat.
Olaf Scholz SPD politik Jerman populisme