Hari ini, kita mengenang 1000 hari tragedi Kanjuruhan yang menewaskan banyak orang saat pertandingan sepak bola. Peristiwa ini mengingatkan kita pada kesedihan yang dialami oleh keluarga korban dan dampak yang ditinggalkannya di masyarakat.
Setelah Timnas Indonesia berhasil lolos ke putaran ke-4 kualifikasi Piala Dunia 2026, suasana seharusnya penuh euforia. Namun, bagi masyarakat Kanjuruhan, kenangan pahit itu masih membayangi. Ketika sorak-sorai bergema, hal yang terjadi di Kanjuruhan justru sebaliknya. Tangisan menggantikan sorak, dan aroma semangat hilang ditelan kepanikan dan kesedihan.
Pada saat tragedi itu terjadi, gas air mata ditembakkan ke arah tribun penonton, suatu tindakan yang jelas tidak sesuai dengan aturan FIFA. Kejadian ini menyebabkan banyak penonton panik dan berdesakan, akhirnya mengakibatkan banyak korban jiwa. Pintu-pintu stadion tidak terbuka, dan jalur evakuasi tidak memadai, menciptakan suasana yang sangat berbahaya.
Setelah tragedi, pemerintah dan pihak berwenang berjanji untuk melakukan investigasi. Namun, janji-janji itu terasa kosong. Meskipun beberapa orang dijadikan tersangka, hukuman yang dijatuhkan dianggap tidak adil dan terlalu ringan dibandingkan dengan hilangnya nyawa. Keluarga korban menghadapi proses hukum yang lambat dan tidak transparan, membuat mereka merasa diabaikan.
Rasa kehilangan yang mendalam dirasakan oleh para orang tua yang kehilangan anak, pasangan yang kehilangan cinta, dan anak-anak yang kehilangan orang tua. Mereka hidup dengan trauma yang sulit untuk diobati. Tragedi ini bukan hanya tentang angka korban, tetapi juga tentang bagaimana negara memperlakukan warganya yang sedang berduka.
Yang paling menyakitkan bagi mereka adalah melihat bahwa kehilangan yang mereka alami tidak dianggap penting oleh para penguasa. Keadilan seharusnya tidak hanya menjadi kata-kata kosong. Keadilan harus nyata, hadir untuk menyapa dan menghibur mereka yang menderita.
Dengan mengenang 1000 hari tragedi Kanjuruhan, kita berharap agar semua pihak dapat lebih memperhatikan keselamatan dan keamanan di stadion. Semoga tragedi ini menjadi pelajaran berharga agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.
Tragedi Kanjuruhan sepak bola keadilan korban Malang