Hannah Arendt, seorang filsuf dan penulis terkenal, mengeksplorasi bagaimana totalitarianisme muncul dalam bukunya yang berjudul The Origins of Totalitarianism. Dalam karyanya, Arendt tidak hanya membahas tentang fasisme atau komunisme, tetapi juga kondisi yang memungkinkan munculnya rezim-rezim tersebut, seperti rasa kesepian, ketidakberdayaan, dan hilangnya negara.
Arendt menekankan bahwa bukan monster yang menciptakan kekacauan, melainkan manusia biasa. Dia menggambarkan para birokrat yang terlibat dalam tindakan jahat, yang mematuhi perintah bukan karena keyakinan, tetapi karena keyakinan itu sendiri telah menjadi tidak berarti.
Dalam bukunya, Arendt melacak jejak sejarah yang kelam, dari kekejaman kolonial Eropa hingga kekuatan massa yang mengikat individu pada gerakan yang sesat. Dia menunjukkan bahwa pada akhirnya, semua yang tersisa adalah kehendak pemimpin, yang diungkapkan bukan dengan kata-kata, tetapi melalui para penghubung — orang-orang yang berkuasa dan penentu hidup mati.
Dalam negara totalitarian, hukum tidak lagi mengikat. Janji tidak lagi menjadi pegangan. Kesetiaan tidak ditujukan kepada masa lalu atau rakyat, tetapi kepada visi masa depan yang selalu menjauh, yang terus membenarkan tindakan kejam seperti gulag dan pembersihan.
Di masa lalu, kita berpikir bahwa abad kamp telah berlalu. Namun, Arendt memperingatkan kita akan bahaya yang masih ada. Dia mengajak kita untuk mendengar suara-suara kerumunan yang mencari kambing hitam, dan penolakan terhadap kebenaran demi kebohongan yang menguntungkan. Tes kesucian ideologis yang mengingatkan kita pada penyiksaan masa lalu muncul dalam bentuk baru.
Dalam menghadapi kehampaan ini, Arendt berpendapat bahwa bukan hanya alasan yang dapat menyelamatkan kita, tetapi juga penegasan sederhana dan keras kepala: Beberapa hal tidak boleh pernah dilakukan lagi.
Hannah Arendt totalitarianisme buku keadilan