Breaking News
    Tidak Ada Level Aman Minum Alkohol untuk Jaga Kesehatan Otak     Labour Partai Akan Suarakan Deklarasi Genosida Israel di Gaza     Ubah Pola Pikir, Ubah Nasib: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik     Mensesneg Prasetyo Cari Solusi Setelah Kartu Identitas Wartawan Dicabut    

Turki Khawatir Soal Serangan AS ke Iran

ISTANBUL - Pemerintah Turki menyampaikan kekhawatiran mengenai serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) terhadap fasilitas nuklir Iran. Meskipun banyak negara sekutu Iran dan beberapa negara di kawasan mengkritik serangan tersebut, Turki tidak mengutuknya secara langsung.

Beberapa jam setelah serangan terjadi, Kementerian Luar Negeri Turki mengeluarkan pernyataan yang menegaskan bahwa serangan ini dapat memperburuk keamanan di kawasan tersebut. “Turki sangat khawatir tentang kemungkinan akibat dari serangan AS terhadap fasilitas nuklir Republik Islam Iran,” bunyi pernyataan tersebut.

Kementerian itu juga menyatakan, “Perkembangan yang sedang berlangsung dapat meningkatkan konflik di kawasan ini menjadi tingkat global. Kami tidak ingin skenario bencana ini menjadi kenyataan.”

Pernyataan ini berbeda jauh dengan komentar Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, sehari sebelumnya, yang menyebut serangan Israel selama beberapa minggu terakhir sebagai “perbuatan perampok”. Meskipun Turki telah lama menentang Iran untuk memperoleh senjata nuklir, mereka tetap mendukung solusi diplomatik dalam menyelesaikan konflik.

Pada tahun 2010, Turki dan Brasil berhasil memfasilitasi perjanjian tukar bahan bakar nuklir sebagai upaya untuk meredakan ketegangan antara Iran dan negara-negara Barat.

Alih-alih mengeluarkan kecaman keras terhadap Presiden AS, Donald Trump, Erdogan tampaknya ingin menjaga hubungan baik dengan pemimpin AS tersebut. Hubungan ini sebelumnya membantu Erdogan meyakinkan Trump untuk mencabut sanksi terhadap Presiden Suriah, Ahmed Al Sharaa.

Pejabat Turki juga mengonfirmasi laporan yang diterbitkan oleh Axios bahwa Erdogan berhasil meyakinkan Trump untuk mengirim Wakil Presiden JD Vance dan Utusan Khusus Steve Witkoff ke Istanbul. Mereka dijadwalkan untuk bertemu dengan delegasi Iran yang dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Trump bahkan menyarankan kemungkinan untuk hadir dalam negosiasi tersebut.

Namun, pertemuan tersebut pada akhirnya tidak terjadi karena Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, tidak dapat dihubungi untuk mengambil keputusan akhir, menurut pejabat Turki.

Analisis oleh Ragip Soylu di Ankara

library_books Middleeasteye