Presiden El Salvador, Nayib Bukele, mulai mengabaikan kebebasan sipil di negaranya. Bukele, yang terpilih sebagai presiden pada tahun 2019, awalnya berjanji untuk mengatasi kekerasan yang disebabkan oleh geng yang mengganggu masyarakat. Untuk mencapai tujuannya, ia telah menangkap sekitar 85.000 orang yang dicurigai sebagai anggota geng tanpa melalui proses pengadilan.
Masyarakat El Salvador, meskipun merasa prihatin, telah menerima tindakan tegas Bukele karena angka pembunuhan di negara itu telah menurun drastis. Namun, seiring berjalannya waktu, tindakan tegas ini semakin terlihat sebagai cara untuk menekan kritik terhadap pemerintahannya, bukan hanya untuk melawan kekerasan geng.
Dulu, Bukele menggunakan kekuasaan otoriternya untuk menanggulangi kejahatan. Sekarang, banyak yang berpendapat bahwa ia menggunakan cara yang sama untuk membungkam suara-suara yang menentangnya. Siapa saja yang dianggap mengganggu citra baiknya dapat menghadapi tindakan keras dari pemerintah.
Kritik terhadap Bukele semakin meningkat, karena banyak yang mulai melihat bahwa citra dirinya sebagai pemimpin muda dan inovatif yang dapat membawa perubahan kini mulai pudar. Bukele kini dianggap semakin mirip dengan seorang diktator di Amerika Latin yang tidak toleran terhadap kritik.
Dengan situasi yang terus berkembang, masyarakat El Salvador harus menghadapi tantangan untuk menegakkan kebebasan sipil mereka sambil berharap untuk keamanan yang lebih baik. Jika tindakan keras ini terus berlanjut, masa depan kebebasan di El Salvador mungkin akan semakin suram.
Nayib Bukele kebebasan sipil El Salvador gang kekuasaan