Pada bulan April, Presiden Donald Trump mengumumkan penerapan tarif "balasan" yang besar sebagai solusi untuk mengatasi defisit perdagangan Amerika. Namun, keputusan ini memicu protes dari berbagai kelompok, termasuk Liberty Justice Centre, sebuah organisasi advokasi hukum, dan beberapa perusahaan kecil. Mereka merasa bahwa tarif ini akan merugikan usaha kecil dan berusaha melawan keputusan tersebut di pengadilan.
Pada tanggal 28 Mei, Pengadilan Perdagangan Internasional Amerika Serikat mengeluarkan putusan yang menyatakan bahwa Presiden Trump tidak memiliki wewenang untuk menerapkan tarif balasan tersebut. Keputusan ini mengejutkan banyak pihak dan mendapat sambutan positif dari para investor. Indeks S&P 500, yang mencerminkan kinerja 500 perusahaan besar di Amerika, mengalami lonjakan sebesar 1.5% setelah berita ini diumumkan.
Namun, meskipun ada reaksi positif dari pasar, para analis di Goldman Sachs mengingatkan bahwa ketidakpastian perdagangan justru meningkat setelah keputusan pengadilan ini. Mereka mencatat bahwa kebijakan perdagangan Amerika tampaknya menjadi semakin kacau dan sulit diprediksi.
Keputusan pengadilan ini menunjukkan adanya batasan terhadap kekuasaan presiden dalam mengatur tarif dan dapat mempengaruhi hubungan perdagangan Amerika dengan negara lain. Saat ini, banyak yang menantikan bagaimana pemerintah akan merespons situasi ini dan apakah akan ada kebijakan baru yang akan diterapkan untuk mengatasi masalah perdagangan yang ada.
Donald Trump tarif pengadilan Liberty Justice Centre ekonomi