Pemerintah Amerika Serikat telah mengumpulkan sampel DNA dari lebih dari 133.000 anak dan remaja migran, dan data tersebut telah diunggah ke dalam CODIS, sebuah database kriminal nasional yang awalnya dirancang untuk pelanggar seksual dan kriminal kekerasan. Informasi ini diperoleh dari dokumen yang ditinjau oleh WIRED.
Rekaman ini dirilis dengan diam-diam oleh Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS (CBP) lebih awal tahun ini, memberikan pandangan paling mendetail hingga saat ini mengenai skala program pengumpulan DNA yang kontroversial ini. Beberapa anak yang DNA-nya telah dikumpulkan bahkan merupakan warga negara Amerika.
Departemen Kehakiman (DOJ) berargumen bahwa pengumpulan DNA di perbatasan dapat membantu memecahkan kejahatan di masa depan. Namun, para ahli menyatakan bahwa material genetik anak-anak tersebut akan disimpan tanpa batas waktu dan khawatir bahwa data ini bisa digunakan untuk profil yang lebih luas. Seorang ahli privasi memberi tahu WIRED bahwa jika tujuan pemerintah adalah untuk menentukan apakah seorang tahanan terhubung dengan kejahatan masa lalu, tidak perlu menambahkan DNA ke CODIS—mereka cukup memeriksa kecocokan dengan profil yang sudah ada.
Pengumpulan DNA ini menimbulkan banyak pertanyaan mengenai privasi dan hak asasi manusia. Apakah anak-anak ini memahami apa yang terjadi dengan DNA mereka? Atau bagaimana data itu akan digunakan di masa depan? Ini adalah isu penting yang perlu diperhatikan oleh masyarakat.
Kegiatan pengumpulan DNA ini juga menunjukkan bagaimana pemerintah dalam penanganan migrasi dapat berpengaruh pada kehidupan pribadi anak-anak. Masyarakat diharapkan lebih kritis dan peka terhadap penggunaan data pribadi, terutama yang melibatkan anak-anak.
Dengan perkembangan ini, penting untuk terus mengikuti berita dan memahami lebih jauh tentang dampak dari pengumpulan data genetik ini terhadap masyarakat dan individu.
DNA anak migran pemerintah AS database kriminal CODIS