Pada tahun 2020, Kim Berlin, seorang desainer dan ahli strategi merek, mendapatkan kesempatan langka untuk menciptakan identitas visual sebuah maskapai penerbangan dari awal. Maskapai penerbangan berbiaya rendah, Avelo, berjanji untuk fokus pada penerbangan murah menuju bandara-bandara regional yang kurang terlayani. Berlin bekerja sama dengan perusahaan tersebut untuk mengembangkan segala hal mulai dari logo, desain livery pesawat, hingga pakaian yang akan dikenakan oleh pramugari.
Namun, awal bulan ini, Avelo menandatangani perjanjian kontroversial untuk mulai mengoperasikan penerbangan deportasi sewa untuk Badan Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai AS (ICE). Beberapa penerbangan ini dilakukan tanpa proses hukum yang sesuai, yang merupakan pelanggaran terhadap Konstitusi AS.
Kepada Berlin, kemitraan dengan ICE ini datang sebagai kejutan besar. Ia menyatakan, "Sekarang lebih dari sebelumnya adalah saat kita perlu bertanya apakah cara bisnis bekerja benar-benar menguntungkan kita."
Perjanjian ini menimbulkan banyak pertanyaan tentang etika dan tanggung jawab sosial dalam dunia bisnis. Avelo yang sebelumnya dikenal sebagai maskapai yang berfokus pada penerbangan murah kini terlibat dalam isu yang lebih besar, yaitu deportasi.
Reaksi Berlin menunjukkan kekhawatiran yang lebih luas tentang bagaimana bisnis dapat beroperasi tanpa mempertimbangkan dampak sosial yang lebih besar. Hal ini menggugah pertanyaan tentang tanggung jawab perusahaan dalam menjalankan operasi mereka dan bagaimana keputusan bisnis dapat mempengaruhi masyarakat.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa setiap keputusan yang diambil oleh perusahaan tidak hanya berdampak pada keuntungan mereka, tetapi juga pada kehidupan orang lain. Dengan adanya perdebatan mengenai kemitraan ini, banyak yang berharap agar perusahaan lebih sadar akan tanggung jawab sosial mereka di masa depan.
Kim Berlin Avelo penerbangan deportasi desainer