Aliansi Jurnalis Independen (AJI) merayakan Hari Kebebasan Pers Sedunia 2025 dengan mengadakan rangkaian acara di 34 kota di Indonesia. Kegiatan ini mencakup diskusi, aksi, hingga pertunjukan seni yang mengangkat tema "Reporting in the Brave New World - The Impact of Artificial Intelligence on Press Freedom and the Media". Tema ini dipilih untuk menyoroti tantangan yang dihadapi oleh jurnalisme berkualitas di era digital.
Saat ini, praktik jurnalisme berkualitas menghadapi tantangan semakin kompleks. Menurut laporan dari Reporter Without Borders (RSF) tahun 2025, situasi kebebasan pers di seluruh dunia diklasifikasikan dalam kategori "sulit". Ini adalah kali pertama dalam sejarah indeks kebebasan pers global terjadi hal seperti ini.
Kendati serangan fisik terhadap jurnalis merupakan pelanggaran yang paling terlihat, tantangan yang lebih dalam muncul dari keretakan ekonomi media yang mengguncang fondasi jurnalisme itu sendiri. Dalam laporan tahunan tersebut, salah satu aspek yang disorot adalah indikator ekonomi, yang merupakan salah satu dari lima pilar utama penilaian dalam Indeks Kebebasan Pers RSF. Pada tahun 2025, indikator ini berada pada titik terendah dan kritis, sebuah penurunan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Di Indonesia, skor kebebasan pers juga menunjukkan penurunan dari tahun ke tahun. Dari 180 negara, Indonesia yang pada tahun 2024 menempati peringkat ke-111 dengan skor 51,15 poin, kini melorot ke posisi 127 dengan skor 44,13 poin pada tahun 2025. Penurunan ini menempatkan kebebasan pers di Indonesia dalam kategori "sulit".
Hari Kebebasan Pers Sedunia ini mengajak seluruh masyarakat untuk lebih peduli terhadap kebebasan pers dan tantangan yang dihadapinya. AJI berharap agar masyarakat dapat memberikan dukungan kepada jurnalis dan media dalam melaksanakan tugas mereka.
Apakah kamu punya pendapat mengenai situasi kebebasan pers saat ini? Silakan komentar di bawah ya!
Hari Kebebasan Pers AJI kebebasan pers media Indonesia