Buadaya - Sebuah acara penting terjadi di Double V Coffee & Eatery, Rawamangun, Jakarta Timur pada Sabtu (26/7/2025). Komunitas diaspora Nias, akademisi, dan pemerhati budaya berkumpul dalam Dialog Interaktif bertema “Suara yang Pulang”. Acara ini diselenggarakan oleh Suno Zo'aya Foundation dan beberapa mitra lainnya, bertujuan untuk merayakan upaya repatriasi atau pemulangan kembali rekaman suara dan dokumentasi budaya Nias kepada masyarakat Nias.
Rekaman suara yang dibahas dalam acara ini awalnya direkam oleh etnomusikolog Belanda, Jaap Kunst, pada tahun 1930.
Setelah lebih dari sembilan dekade tersimpan di Amsterdam, rekaman ini kini kembali dihadirkan secara simbolis kepada masyarakat asalnya.
Suara leluhur ini kembali menggema baik di Nias maupun di antara diaspora yang tersebar di Jabodetabek.
Inisiatif repatriasi ini dipimpin oleh Dr. Barbara Titus dari Universiteit van Amsterdam, bersama Doni Kristian Dachi, seorang pegiat sejarah dan budaya Nusantara dari Nias Selatan.
Dalam dialog yang berlangsung selama dua jam itu, para peserta berhasil menghubungkan masa lalu dengan masa kini masyarakat Nias.
Acara dimulai dengan pemutaran rekaman suara hoho, sebuah bentuk seni nyanyian khas Nias.
Penyerahan rekaman tersebut kepada keturunan penyanyi di desa Hilisimaetanö, Nias Selatan, menjadi momen penting.
"Ketika suara leluhur kami terdengar kembali, itu bukan sekadar nostalgia, ini adalah pengakuan atas identitas kami." jelas, Doni Kristian Dachi.
Barbara Titus menambahkan bahwa repatriasi adalah penegasan hak pengelolaan warisan budaya oleh komunitas.
Ia sebelumnya telah menyerahkan arsip suara ke tujuh desa yang direkam oleh Jaap Kunst.
"Proses ini membuka kesempatan bagi masa depan budaya yang lebih setara dan bermakna," ucapnya.
Komunitas diaspora Nias menunjukkan bahwa warisan budaya adalah bagian hidup yang dinamis.
Penampilan grup vokal Hoho Nafulu Bawömataluo Diaspora yang membawakan lagu Mazmur 23 menambah kehangatan suasana.
Selain itu, peserta juga menikmati pameran mini yang menggambarkan proses repatriasi.
Diskusi interaktif menawarkan ruang bagi audiens untuk bertanya tentang pengelolaan arsip digital.
Barbara menegaskan pentingnya transfer tanggung jawab atas arsip kepada masyarakat.
Doni Kristian Dachi menekankan visi untuk menjadikan komunitas Nias sebagai subjek aktif dalam mendefinisikan identitas budaya mereka.
Di akhir acara, penyerahan simbolis salinan digital arsip dilakukan kepada beberapa perwakilan komunitas, termasuk Badan Penghubung Prov. Sumatera Utara dan Nafulu Bawömataluo Diaspora.
Momen ini diakhiri dengan doa bersama dan penghormatan kepada leluhur, menciptakan suasana haru dan kebersamaan.
"Setiap rekaman bukan hanya relik mati, melainkan suara yang hidup dan berdenyut," ungkap Barbara Titus.
Acara ini menegaskan bahwa repatriasi warisan budaya adalah proses pembebasan dan penghidupan kembali identitas komunitas yang selama ini terpinggirkan, membuka ruang bagi masa depan yang menghormati akar budaya bangsa.(bj)*
Dialog Interaktif Suara yang Pulang Budaya Nias Repatriasi