KOTA BATU – Seorang siswi SMA di Kota Batu menunjukkan keberanian luar biasa dengan melaporkan dugaan pencabulan yang dilakukan oleh seorang oknum Aparatur Sipil Negara (ASN). Kasus ini segera ditangani oleh pihak kepolisian, yang telah resmi menahan pelaku.
Pelaku, bekerja sebagai pesuruh di salah satu Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Kota Batu, telah ditetapkan sebagai tersangka dan kini berada dalam tahanan Polres Batu. Korban melaporkan tindakan pencabulan yang dialaminya sejak tahun 2022 hingga 2025, dan perjuangannya untuk berbicara tentang pengalaman traumatis ini akhirnya membuahkan hasil.
Dugaan pencabulan pertama terjadi saat korban masih duduk di kelas 3 SMP, setelah acara keluarga dalam sebuah mobil. Sejak saat itu, pelaku terus melakukan tindakan cabul, bahkan di rumah korban.
"Ini bukan hanya tentang pencabulan, tetapi tentang keberanian korban untuk menyuarakan kekerasan yang selama ini ia pendam. Korban mengirim sinyal bantuan dalam bentuk video kepada tetangganya, yang menjadi titik awal terungkapnya kasus ini." jelas, Kuasa hukum korban, Rochmat Basuki. Puncak dari peristiwa pencabulan ini terulang lagi pada tahun 2025, saat korban sedang berduka karena kehilangan ibunya.
Dalam suasana taziah, tersangka diduga kembali melakukan aksi cabul yang lebih parah.
Korban berhasil mendokumentasikan peristiwa tersebut melalui foto dan video, yang kemudian ia sampaikan kepada tetangga yang mengasuhnya.
"Setelah itu, kami amankan korban, dampingi, dan langsung melapor ke Polres Batu. Kami sangat menghargai kepolisian, terutama Kapolres, Kasat Reskrim, dan Unit PPA yang menangani kasus ini dengan profesional dan cepat," tambah, Rochmat.
Proses penyelidikan dilakukan selama tujuh hari. Berdasarkan bukti-bukti awal yang kuat, termasuk hasil pemeriksaan laboratorium forensik atas bekas luka dan dokumentasi visual, polisi menetapkan pelaku sebagai tersangka dan melakukan penahanan.
"Sudah tersangka dan kami tahan. Saat ini pelaku dalam proses penyidikan." tegas Kasat Reskrim Polres Batu, Iptu Joko Suprianto.
Namun, Rochmat juga menyampaikan kekhawatiran bahwa kasus ini tidak hanya terjadi sekali. Ia menduga pelaku mungkin memiliki korban lain dari lingkungan kerjanya.
"Kami menduga ini bukan kasus tunggal. Kami sudah menerima beberapa informasi dan akan menelusuri lebih lanjut. Kami juga menolak semua tawaran damai dari pihak pelaku," ungkapnya.
Sementara itu, kondisi psikologis korban masih memprihatinkan. Ia mengalami trauma dan ketakutan, terutama karena rumah pelaku berdekatan dan mereka memiliki hubungan keluarga.
"Korban pernah mengalami kehilangan nafsu makan, dan hingga kini masih takut jika mendengar atau melihat bayangan pelaku," tutup, Rochmat.(gus)*
Siswi SMA Pencabulan ASN Kota Batu Polisi